Tanda 'Kiamat' Makin Jelas, Ilmuwan Ungkap Tanda-Tanda di Wilayah Ini

Tim Redaksi, CNBC Indonesia
Minggu, 14/06/2026 15:00 WIB
Foto: Sebuah bongkahan es mengapung di perairan laut dekat Nuuk, Greenland, 30 Januari 2026. REUTERS/Stoyan Nenov

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis Iklim atau 'Kiamat iklim' makin terlihat jelas di muka bumi. Tanda-tanda itu bahkan muncul di perairan Atlantik Utara, tepatnya di sebelah Selatan PulauĀ Greenland dan Islandia.

Di saat rata-rata suhu seluruh permukaan laut bumi naik, suhu udara di perairan tersebut malah turun atau mendingin.

Para ahli pun menemukan jawaban anomali tersebut sebagai tanda-tanda yang amat mengkhawatirkan ke depan sebagai krisis iklim yang paling parah.


Gejala pendinginan hamparan laut tersebut dijuluki sebagai "gumpalan dingin" atau "lubang pemanasan" yang telah mendingin hampir 1 derajat Celsius (1,8 Fahrenheit) sejak tahun 1900.

Mengutip CNNIndonesia, Para ilmuwan telah lama memperdebatkan apakah anomali ini disebabkan oleh hilangnya panas dari permukaan laut akibat perubahan angin dan awan, atau apakah ini merupakan sinyal melemahnya sistem arus laut penting yang mengangkut panas.

Penelitian baru ini menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah yang terakhir dan temuan ini menunjukkan masa depan yang mengkhawatirkan.

Gejala alam The Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC) bekerja seperti sabuk konveyor laut yang luas. AMOC menarik air hangat dari daerah tropis ke Belahan Bumi Utara, di mana air tersebut mendingin, tenggelam, dan mengalir kembali ke selatan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sistem ini melemah karena pemanasan global yang disebabkan oleh manusia mengakibatkan es mencair dan lonjakan air tawar ke laut. Gejala itu mengganggu keseimbangan panas dan salinitas AMOC yang rapuh.

Beberapa ilmuwan memperingatkan bahwa AMOC sedang menuju titik kritis, berpotensi terjadi paling cepat pada abad ini, yang berarti keruntuhan di masa depan sudah pasti terjadi, dikutip dari CNN.

Penghentian AMOC akan menjadi bencana global, menyebabkan percepatan kenaikan permukaan laut di Pantai Timur AS, menjerumuskan Eropa ke dalam musim dingin yang membekukan, dan menggeser monsun di Afrika yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan.

Gumpalan dingin tersebut ditafsirkan oleh beberapa pihak sebagai jejak perubahan AMOC karena merupakan wilayah tempat AMOC membawa sebagian besar panasnya.

Untuk lebih memahami apa yang terjadi di bagian Atlantik ini, para ilmuwan menelitinya dengan menggabungkan data panas laut dunia nyata dari instrumen dan satelit dengan model iklim.

Mereka menemukan bahwa pendinginan di gumpalan dingin tersebut tidak hanya terjadi di permukaan tetapi juga jauh di dalam laut, di mana kondisi atmosfer seperti angin dan awan memiliki pengaruh yang jauh lebih lemah.

Semua tanda mengarah pada pengaruh AMOC, demikian temuan studi tersebut

"Hal ini mengubah transportasi panas laut" yang mendorong pendinginan gumpalan dingin tersebut, kata Stefan Rahmstorf, penulis studi dan profesor fisika dan kelautan di Universitas Potsdam, Jerman.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Teknologi Bantu Bisnis Konstruksi Makin Produktif, RI Siap?