Kondisi Sebenarnya Usai Grab-Gojek Umumkan Hapus Paket Hemat
Jakarta, CNBC Indonesia - Kedua raksasa aplikasi ride-hailing, Gojek dan Grab Indonesia memutuskan menghapus paket hemat driver menyusul pengumuman aturan hasil ojol-aplikator 92% dan 8% dari pemerintah awal Mei lalu. Bagaimana yang terjadi sebenarnya di lapangan?
CNBC Indonesia mencoba bertanya pada sejumlah driver terkait pengumuman ini. Mereka yang kami temui mengatakan telah mendengar soal penghapus paket langganan hemat.
Namun, beberapa driver mengaku belum ada pemberitahuan soal kebijakan baru tersebut. Seorang driver yang kami temui menjelaskan soal paket hemat yang saat ini tersedia untuk mereka.
Layanan disebut akan memotong pendapatan driver sesuai dengan berapa banyak paket hemat yang dilakukan.
Misalnya, seorang pengemudi ojol menjelaskan 1-2 trip mendapatkan potongan Rp 3 ribu. Sementara 10-20 trip akan mendapat potongan pendapatan Rp 20 ribu.
Beberapa pengemudi mengatakan potongan itu tidak jadi masalah asalkan mereka sudah melakukan banyak trip, misalnya hingga 20-30 kali perjalanan. Pasalnya, pemasukan mereka terbilang sudah banyak dibandingkan potongan yang didapatkan.
Namun, hal ini dinilai akan merugikan mereka yang bekerja dalam waktu singkat. Misalnya hanya beberapa jam selama sore hari.
"Yang keluar sore nih jam 5nanggung, enggak maungidupinhematnya. Pakai [layanan] standar aja. Karena kena potongan, dapat 5 trip dipotong Rp 13.500, belum bensin dan
makan," jelas driver lainnya.
Seorang driver lain juga mengeluhkan hal yang sama. Dia menjelaskan mendapatkan banyak orderan jika menggunakan layanan tersebut, namun harus membayar sejumlah uang setelah melakukan beberapa kali orderan hemat.
Para driver juga menyatakan mendukung layanan tersebut dihapus sepenuhnya. Termasuk untuk bagi hasil terbaru yang diumumkan bulan Mei lalu.
Kebijakan Layanan Hemat Terbaru
GoTo telah mengumumkan akan menghentikan skema langganan untuk mitra pengemudi pada layanan GoRide Hemat. Skema yang akan digunakan adalah mengikuti sistem bagi hasil seperti GoRide reguler, dengan besaran 8%.
Sebelumnya, layanan hemat memiliki skema berlangganan dengan pengemudi membayarkan biaya tertentu. Dengan kebijakan baru maka skema lama tidak berlaku dan diubah menjadi sistem komisi seperti pada GoRide reguler.
Perluasan fitur langganan dilakukan sejak Februari 2026. Direktur Utama/CEO GoTo Hans Patuwo mengatakan program langganan dihapuskan setelah dilakukan evaluasi, perusahaan menilai skema langgana harus memiliki keseimbangan lebih baik pada kesejahteraan mitra pengemudi.
Perubahan skema ini juga bakal berdampak pada tarif konsumen, khususnya layanan GoRide Hemat. Namun GoTo memastikan kenaikan dilakukan terbatas.
"Dampak dari ini, khususnya hanya untuk layanan GoRide Hemat, akan ada penyesuaian harga konsumen secara sangat terbatas. Kami memastikan bahwa penyesuaian ini dilakukan secara terukur dan tetap mengutamakan keterjangkauan bagi masyarakat," tegasnya.
Grab Indonesia juga mengumumkan keputusan yang sama, menutup Program Langganan Akses hemat untuk GrabBike atau pengemudia roda dua. Alasan kebijakan ini karena perlu penyesuaian lebih baik lagi.
Layanan GrabBike Hemat untuk konsumen juga dipastikan tetap tersebut. Namun dengan ada penyesuaian tarif yang mengutamakan keterjangkauan untuk masyarakat.
Hingga kini, belum ada penjelasan lebih lanjut soal kebijakan ini. Termasuk kapan dan bagaimana penerapan kebijakan dilakukan nantinya.
(fab/fab) Add
source on Google