Mengenal Cerebras Systems, Pengganti Nvidia yang Siap Guncang Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Dominasi Nvidia di pasar chip kecerdasan buatan (AI) mulai menghadapi tantangan serius. Salah satu penantang yang kini menjadi sorotan adalah Cerebras Systems, perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat yang sukses mencuri perhatian investor setelah melantai di bursa saham AS pekan lalu.
CEO sekaligus pendiri Cerebras Systems, Andrew Feldman, mengatakan perusahaannya mengusung pendekatan berbeda dibanding pemain chip AI lainnya.
"Kami membangun chip terbesar di industri semikonduktor," kata Feldman seperti dikutip dari CNBC International, Senin (7/6/2026). Ia menambahkan, "Chip besar memproses lebih banyak informasi dalam waktu lebih singkat dan memberikan hasil lebih cepat."
Kepercayaan pasar terhadap Cerebras terlihat dari debut perdananya di Wall Street. Pada hari pertama perdagangan, perusahaan itu langsung mencatatkan kapitalisasi pasar mendekati US$100 miliar atau sekitar Rp1.809,5 triliun menjadikannya salah satu penawaran saham perdana (IPO) teknologi terbesar dalam sejarah.
Berbeda dengan Nvidia yang mengandalkan Graphics Processing Unit (GPU), Cerebras mengembangkan chip khusus yang dikenal sebagai Wafer Scale Engine (WSE). Generasi terbarunya, WSE-3, termasuk kategori Application-Specific Integrated Circuit (ASIC), yakni chip yang dirancang khusus untuk menjalankan tugas tertentu dengan efisiensi tinggi.
Perusahaan mengklaim WSE-3 memiliki ukuran 57 kali lebih besar dibanding GPU terbesar yang ada saat ini, serta dibekali jumlah transistor 50 kali lebih banyak. Bentuk chip tersebut bahkan disebut-sebut hampir sebesar piring makan.
Selama beberapa tahun terakhir, Nvidia menjadi pemain dominan dalam industri AI karena GPU buatannya mampu menangani komputasi paralel yang dibutuhkan untuk melatih model AI berskala besar. Namun, perkembangan teknologi kini mulai bergeser ke era "agentic AI", ketika kemampuan inference atau proses pengambilan keputusan oleh AI menjadi faktor yang semakin penting.
Perubahan tren tersebut membuka peluang bagi chip ASIC seperti milik Cerebras untuk bersaing lebih agresif. Tak heran jika persaingan di sektor chip AI semakin ketat dengan masuknya sejumlah raksasa teknologi seperti Google, Amazon, Meta, hingga Microsoft yang juga mengembangkan chip AI khusus mereka sendiri.
Tak hanya menjual perangkat keras, Cerebras juga membangun bisnis layanan cloud AI melalui pusat data miliknya sendiri. Strategi ini membuat perusahaan berhadapan langsung dengan pemain besar seperti Microsoft, Google, Oracle, hingga CoreWeave dalam perebutan pasar komputasi AI.
Permintaan terhadap layanan Cerebras pun disebut melonjak tajam. Chief Financial Officer (CFO) Cerebras, Bob Komin, mengungkapkan kapasitas layanan perusahaan saat ini telah habis terjual hingga 2027.
"Untuk produk inference cepat kami, permintaannya sangat tinggi hingga tantangan terbesar kami justru bagaimana memenuhi pasokannya. Kami menambah kapasitas manufaktur dan pusat data semaksimal mungkin, namun produk kami tetap habis terjual hingga 2027," ujar Komin.
Prospek bisnis Cerebras semakin menguat setelah perusahaan mengumumkan kerja sama layanan cloud AI senilai US$20 miliar atau sekitar Rp361,9 triliun dengan OpenAI hingga 2028. Selain itu, Amazon Web Services (AWS) juga mulai memanfaatkan teknologi chip Cerebras di pusat datanya sejak Maret lalu.
Cerebras bukan satu-satunya pendatang baru yang mencoba menggoyang dominasi Nvidia. Sejumlah perusahaan lain seperti Groq, SambaNova Systems, dan D-Matrix juga turut memanfaatkan ledakan permintaan chip AI global yang terus meningkat.
Meski Nvidia masih menjadi pemimpin pasar saat ini, kemunculan Cerebras menunjukkan bahwa persaingan industri chip AI memasuki babak baru. Dengan teknologi chip berukuran raksasa dan fokus pada kebutuhan inference AI, Cerebras berpotensi menjadi salah satu pemain yang paling serius mengancam dominasi Nvidia dalam beberapa tahun mendatang.
(luc/luc) Add
source on Google