El Nino Bawa Bencana Besar Kering Panas Mendidih, PBB Sebut Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan fenomena iklim El Niño akan kembali terjadi pada musim panas tahun ini dengan tingkat kepastian mencapai 80%.
Kehadirannya diperkirakan memperparah cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, mulai dari cuaca panas, kekeringan ekstrem, hingga banjir.
Dalam prakiraan terbarunya, WMO menyebut El Niño kemungkinan akan berkekuatan sedang hingga kuat dan memiliki peluang 90% untuk bertahan setidaknya sampai November 2026.
"Dunia harus memperlakukannya sebagai peringatan iklim yang mendesak. Kondisi El Niño akan menyiramkan bahan bakar ke dalam api dunia yang terus menghangat," kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, dikutip dari EuroNews, Kamis (4/6/2026).
Peringatan ini muncul setelah sejumlah wilayah Eropa Barat mencatat suhu musim semi tertinggi dalam sejarah akibat terbentuknya fenomena heat dome atau kubah panas. Para ilmuwan memperkirakan kejadian serupa akan menjadi lebih intens, lebih lama, dan lebih sering terjadi seiring berkembangnya El Niño.
Para ilmuwan bahkan memperingatkan dampaknya bisa berlangsung hingga 2028.
El Niño dipicu oleh pemanasan suhu air laut di kawasan Samudra Pasifik tropis. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan pola cuaca global dan sering kali memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan dunia perlu bersiap menghadapi dampak yang lebih besar dibandingkan biasanya.
"Kita perlu mempersiapkan diri menghadapi potensi peristiwa El Niño yang kuat, yang akan memperparah kekeringan dan hujan lebat serta meningkatkan risiko gelombang panas baik di daratan maupun lautan," ujarnya.
WMO mencatat El Niño terakhir pada periode 2023-2024 merupakan salah satu dari lima yang terkuat dalam sejarah. Fenomena tersebut turut berkontribusi menjadikan tahun 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat secara global.
Laporan iklim Eropa tahun 2024 menunjukkan dampak El Niño saat itu sangat kontras. Kawasan Eropa Timur mengalami cuaca panas dan kering yang ekstrem, sementara wilayah Eropa Barat dilanda hujan deras dan banjir.
Menurut Guterres, dampak El Niño kali ini berpotensi lebih luas.
"Tahun ini, dampaknya akan menghantam lebih keras, menjangkau lebih jauh, dan melintasi perbatasan dengan kecepatan yang menghancurkan," katanya.
PBB sebelumnya juga memperingatkan peluang mencapai 86% bahwa beberapa tahun mendatang akan melampaui rekor suhu panas global yang tercatat pada 2024.
Para ilmuwan menilai risiko tersebut meningkat karena El Niño yang kuat terjadi bersamaan dengan laju pemanasan global yang terus meningkat.
Meski perubahan iklim tidak diyakini meningkatkan frekuensi atau kekuatan El Niño, kondisi bumi yang semakin hangat membuat dampaknya menjadi lebih parah.
Lautan dan atmosfer yang lebih panas menyediakan lebih banyak energi dan kelembapan yang memicu gelombang panas, hujan ekstrem, dan berbagai cuaca ekstrem lainnya.
Berdasarkan pengamatan WMO, suhu permukaan laut mulai mendekati ambang batas El Niño sejak akhir April hingga pertengahan Mei. Bahkan suhu bawah permukaan di Pasifik tropis tercatat lebih dari 6 derajat Celsius di atas rata-rata, menandakan adanya cadangan panas besar yang dapat memperkuat fenomena tersebut.
WMO menyebut, setiap peristiwa El Niño memiliki keunikan tersendiri dalam hal evolusi, pola spasial, dan dampaknya.
Namun, fenomena ini biasanya dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di sebagian wilayah selatan Amerika Selatan, selatan Amerika Serikat, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah. Serta kekeringan di Australia, Indonesia, dan sebagian wilayah selatan Asia.
Selama musim panas di belahan bumi utara, air hangat El Niño dapat memicu badai di Samudra Pasifik bagian tengah/timur, sementara itu menghambat pembentukan badai di Cekungan Atlantik.
(dem/dem) Add
source on Google