Kiamat HP Murah Rp 1,5 Juta di RI, Pedagang ITC Buka-Bukaan Faktanya
Jakarta, CNBC Indonesia - Era smartphone murah dengan harga Rp 1,5 juta tampaknya mulai berakhir di Indonesia. Pedagang mengaku kini makin sulit menemukan HP baru di kisaran harga tersebut karena kenaikan harga yang terjadi hampir di seluruh lini perangkat.
Seorang pegawai toko ponsel di ITC Kuningan, Jakarta Selatan, mengatakan kenaikan nilai tukar dolar AS turut mendorong kenaikan harga berbagai produk elektronik, termasuk smartphone.
Dampaknya, segmen ponsel murah yang sebelumnya banyak diburu masyarakat kini perlahan menghilang dari pasar.
"Iya, pada naik semua, semua baru (dan bekas) juga naik, parah naiknya, mahal-mahal," ujar pegawai tersebut kepada CNBC Indonesia.
Menurutnya, beberapa tahun lalu konsumen masih bisa mendapatkan smartphone baru dengan harga sekitar Rp 1,5 juta. Namun kondisi saat ini sudah jauh berbeda.
"Kalau sekarang yang baru sudah nggak ada yang Rp 1,5 juta. Yang dulu harga Rp 1,5 juta sekarang jadi Rp 2 juta, Rp 2,3 juta sampai Rp 2,5 juta," katanya.
Sementara bagi konsumen yang memiliki dana Rp 1,5 juta, pilihan yang tersedia adalah perangkat bekas atau second.
"HP paling murah sekarang Rp 2 juta untuk yang baru. Kalau second Rp 1,5 juta sampai Rp 1,6 juta masih ada, biasanya RAM 6 GB," ujarnya.
Meski demikian, pasar ponsel bekas masih menawarkan sejumlah pilihan bagi masyarakat yang mencari perangkat dengan harga di bawah Rp 1,6 juta.
Beberapa model yang dijual di toko tersebut antara antara lain:
Vivo Y20s 8/256 GB seharga Rp 1,3 juta
Realme 9 Pro 8/128 GB Rp 1,6 juta
Samsung A22 6/128 GB Rp 1,6 juta
Samsung A05 6/128 GB Rp 1,6 juta
Infinix Smart 7 3/64 GB yang dibanderol sekitar Rp 800 ribu.
Krisis HP Murah
Fenomena ini menunjukkan tekanan harga yang tidak hanya terjadi pada smartphone premium, tetapi juga merambah segmen kelas bawah (low-end).
Techwire Asia melaporkan para produsen HP tak bisa mendapatkan DRAM dan NAND yang cukup untuk perangkat low-end, sehingga harus berhadapan dengan pilihan sulit.
Bisa jadi harga HP murah akan dinaikkan sehingga tak lagi semurah dulu. Opsi lainnya adalah memangkas fitur-fitur yang sebelumnya sudah dianggap standar.
Harga kontrak DRAM konvensional diperkirakan akan melonjak 90-95% secara kuartalan pada Q1 2026, sementara harga flash NAND akan naik 55-60%, menurut proyeksi revisi terbaru dari perusahaan riset pasar TrendForce.
Peningkatan dramatis dari perkiraan sebelumnya sebesar 55-60% dan 33-38%, menandakan kelangkaan chip memori mengalami eskalasi yang kian cepat.
Krisis chip memori ini ditengarai perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Produsen chip memprioritaskan chip berkinerja tinggi (HBM) untuk proyek AI, sehingga 'mengesampingkan' chip konvensional untuk perangkat elektronik. Chip AI diprioritaskan karena dinilai lebih menguntungkan.
Kelangkaan chip memori global dikatakan paling terdampak di pasar Asia-Pasifik. Pasalnya, HP murah mendominasi wilayah ini. HP murah umumnya mengambil margin tipis, sehingga ruangnya sangat kecil untuk menghadapi harga chip memori yang naik gila-gilaan.
Biaya komponen untuk HP low-end dengan kisaran harga di bawah US$200 (Rp3,3 jutaan) telah meningkat 25% sejak awal 2025. Sementara segmen kelas menengah (mid-range) dan kelas atas (high-end) masing-masing mengalami peningkatan sebesar 15% dan 10%, menurut Counterpoint.
Harga chip memori masih berpotensi naik 40% sepanjang Q2-2026, sehingga bisa menambah biaya produksi sekitar 8%-15%. Kemungkinan manufaktur harus menelan sendiri risiko ini atau membagi beban dengan menaikkan harga jual ke konsumen.
Pengiriman HP Anjlok
Berdasarkan laporan firma riset IDC yang dirilis pada 14 April 2026, pengiriman ponsel turun 4,1% secara tahunan atau year-on-year menjadi 289,7 juta unit sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.
IDC memperkirakan pelemahan pada awal tahun ini masih relatif ringan dibandingkan tekanan yang berpotensi terjadi ke depan. Krisis chip memori yang berlanjut serta kenaikan harga jual dinilai akan membebani industri smartphone global.
Associate Director Consumer Devices di IDC, Kiranjeet Kaur, mengatakan Q1 2026 merupakan periode menantang bagi semua pabrikan HP.
Pasalnya, mereka harus mencari keseimbangan antara profitabilitas dan pertumbuhan, serta stabilisasi di pasar domestik maupun ekspansi ke luar negeri di tengah keterbatasan pasokan dan tekanan harga.
(fab/fab) Add
source on Google