China Tanam Pohon Gila-Gilaan, Satu Negara Langsung Berubah Total

Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 03/06/2026 12:45 WIB
Foto: Saihanba di Chengde, Hebei, kini jadi hutan buatan terbesar dunia seluas 76.700 hektare, dengan 82% tutupan hijau hasil puluhan tahun penghijauan. (Instagram/chinaembassy_indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Langkah masif Pemerintah China dalam melakukan penghijauan secara besar-besaran selama beberapa dekade terakhir terbukti mengubah lanskap negara tersebut secara total. Proyek lingkungan ambisius ini sukses mengubah wilayah gersang menjadi hutan buatan, namun di sisi lain mulai memicu efek samping yang tidak terduga terhadap distribusi air tawar nasional.

Berdasarkan studi ilmiah yang mengamati perubahan tutupan vegetasi sepanjang periode 2001-2020, ambisi Beijing dalam memulihkan ekosistem lewat penanaman pohon dan pemulihan padang rumput telah mengubah siklus hidrologi di wilayahnya.

Proyek monumental seperti Great Green Wall yang diinisiasi sejak 1978, serta program Grain for Green dan Natural Forest Protection, memang berhasil mendongkrak tutupan hutan China hingga menembus angka di atas 25%. Salah satu bukti keberhasilannya adalah wilayah Saihanba di Chengde, Provinsi Hebei, yang kini menjelma menjadi hutan buatan terbesar di dunia seluas 76.700 hektare dengan tingkat tutupan hijau mencapai 82%.


Krisis Baru di Balik 'Tembok Hijau'

Kendati mendatangkan pujian global dari sisi konservasi, masifnya penanaman pohon ini ternyata berdampak signifikan terhadap ketersediaan air tawar di negeri Tirai Bambu tersebut.

Para peneliti yang melakukan analisis data resolusi tinggi terkait pola evapotranspirasi (penguapan air dari tanah dan tanaman) dan presipitasi (curah hujan) menemukan bahwa ketersediaan air justru menyusut di wilayah monsun timur dan area kering barat laut. Padahal, dua wilayah yang mencakup sekitar 74% daratan China ini merupakan lokasi utama pusat pembangunan ekonomi, lahan pertanian, sekaligus pusat populasi penduduk.

Fenomena ini terjadi karena pohon-pohon yang ditanam menyerap air tanah dalam jumlah masif lalu melepaskannya ke atmosfer melalui proses penguapan (evapotranspirasi). Tingkat penguapan ini tercatat melonjak jauh lebih tinggi daripada intensitas curah hujan yang turun kembali ke wilayah tersebut, sehingga sebagian besar cadangan air hilang ke atmosfer.

Sebaliknya ketersediaan air untuk Dataran Tinggi Tibet mengalami peningkatan. Evapontranspirasi, proses penguapan dan transpirasi tanaman karena meningkatknya tutupan hutan dan padang rumput, dilaporkan meningkat.

"China telah melakukan penghijauan kembali dalam skala masif selama beberapa dekade terakhir. Mereka secara aktif memulihkan ekosistem yang kembali berkembang, khususnya di Dataran Tinggi Loess. Hal ini juga mengaktifkan kembali siklus Air," jelas Arie Staal, salah satu penulis studi, dikutip dari Live Science.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Spam & Scam Mengancam Era AI, Gimana Jurus Bangun Trust Digital?