Studi Menemukan Kebakaran Hutan Global Turun, Tapi Makin Mematikan

Martya Rizky, CNBC Indonesia
Senin, 01/06/2026 18:40 WIB
Foto: Jepang mengerahkan sekitar 1.400 petugas pemadam kebakaran dan 100 personel Pasukan Bela Diri (SDF) untuk menangani kebakaran hutan besar yang terus melanda wilayah pegunungan utara negara itu selama lima hari berturut-turut, Minggu (26/4/2026). (via REUTERS/KYODO)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah studi terbaru mengungkap paradoks kebakaran hutan dunia pada 2025. Meski total luas lahan yang terbakar secara global turun ke level terendah kedua sejak 2002, sejumlah kebakaran ekstrem justru menyebabkan kerusakan besar di negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Spanyol, Portugal, dan Korea Selatan.


Melansir The Guardian, penelitian tersebut mencatat luas lahan yang terbakar sepanjang 2025 mencapai 335 juta hektare, merupakan yang terendah kedua sejak tahun 2002. Sebagian besar disebabkan oleh perluasan pertanian di Afrika yang telah memecah-mecah lanskap dan menghambat penyebaran kebakaran savana besar.


Namun di saat yang sama, sejumlah kebakaran besar menimbulkan dampak yang sangat merusak. Di Amerika Serikat, kebakaran Palisades dan Eaton di Los Angeles menjadi salah satu yang paling destruktif dalam sejarah negara itu. Inggris mencatat rekor luas lahan terbakar setelah "kebakaran besar" di Skotlandia menghanguskan lebih dari 100.000 hektare lahan.



Sementara itu, kebakaran hebat di Spanyol dan Portugal melalap lebih dari 500.000 hektare lahan, sedangkan Korea Selatan mengalami musim kebakaran hutan terbesar dan paling mematikan sepanjang sejarahnya.


Studi tersebut juga menemukan, kebakaran menyumbang lebih dari 38% dari total kerugian yang diasuransikan akibat bencana cuaca sepanjang 2025.


"Tahun 2025 menunjukkan bahwa tahun kebakaran yang 'tenang' secara global pun masih bisa sangat menghancurkan," kata Matthew Jones, seorang ilmuwan iklim dari Universitas East Anglia sekaligus penulis utama studi tersebut, dikutip dari The Guardian, Senin (1/6/2026).


"Kita melihat semakin besarnya kesenjangan antara total area yang terbakar dan dampak nyata di dunia nyata," sambungnya.


Para peneliti pun menjelaskan, meski area yang terbakar secara global menurun, perubahan iklim menciptakan kondisi cuaca yang membuat kebakaran lebih mudah menyebar, terutama di kawasan perbatasan antara hutan dan wilayah permukiman yang padat penduduk.


Di California Selatan dan Korea Selatan, kombinasi vegetasi yang sangat kering dan angin kencang mempercepat penyebaran api ke wilayah berpenduduk sehingga menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur dalam jumlah besar. Sementara di kawasan Mediterania, gelombang panas dan kekeringan ekstrem memicu kebakaran besar dari Portugal hingga Turki.


"Kondisi ini tidak menyebabkan kebakaran, tetapi jika terjadi kebakaran, kita memiliki material yang lebih mudah terbakar daripada biasanya, karena lebih kering, dan kondisi angin yang mengipasi api," kata David Garcia, ahli matematika terapan dari Universitas Alicante.


"Hal ini membuat kebakaran besar lebih mungkin terjadi," lanjut dia.


Garcia juga mengutip hasil studi atribusi yang menunjukkan kondisi cuaca ekstrem yang memicu kebakaran di Portugal dan Spanyol pada 2025, menjadi 39 kali lebih mungkin terjadi akibat perubahan iklim.


"Jika kita terus menghangatkan planet ini, kebakaran skala besar akan terus meningkat," katanya.


Meski emisi karbon global dari kebakaran turun ke level terendah ketiga yang pernah tercatat, Kanada justru mengalami lonjakan emisi akibat kebakaran hutan ekstrem selama tiga tahun berturut-turut. Sejak 2023, hutan boreal di Amerika Utara telah melepaskan hampir 4 miliar ton CO2, melampaui total emisi selama 15 tahun sebelumnya.


Dampak kebakaran juga tidak hanya berasal dari api, tetapi dari asap yang dihasilkan. Penelitian yang dipublikasikan pada September lalu menemukan partikel beracun dari kebakaran hutan Kanada tahun 2023, menyebabkan sekitar 82.000 kematian akibat paparan udara tercemar, dengan asap menyebar hingga ke kota-kota di Amerika Serikat, Eropa, dan Afrika.


Ahli ekologi lanskap dari Misi Biologi Galicia, Spanyol, Adrián Regos mengatakan, pengalaman tahun 2025 kemarin menunjukkan bahwa sejumlah kecil kebakaran ekstrem dapat mendominasi dampak ekologis, sosial, dan ekonomi selama satu musim kebakaran.


"Pola yang lebih luas yang disoroti oleh studi ini konsisten dengan apa yang kita amati di seluruh Eropa selatan: meskipun total area yang terbakar dapat berfluktuasi dari tahun ke tahun, perubahan iklim meningkatkan kemungkinan kondisi cuaca ekstrem yang memicu kebakaran, dan penumpukan bahan bakar yang terkait dengan pengabaian pedesaan membuat banyak lanskap lebih rentan terhadap kebakaran besar yang menyebar dengan cepat," kata Adrián.


"Oleh karena itu, tantangannya bukan hanya mengurangi jumlah kebakaran, tetapi juga meningkatkan ketahanan lanskap dan masyarakat terhadap peristiwa ekstrem," pungkasnya.


(hoi/hoi) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Vidoe: Bahan Baku Masih Impor Jadi PR RI Bikin Lampu Ramah Lingkungan