Belajar dari China, Pengusaha Bersumpah Tak Bakal PHK Gara-Gara AI

Redaksi, CNBC Indonesia
Jumat, 29/05/2026 21:00 WIB
Foto: Artificial Intelligence (AI). REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia berlomba-lomba mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mengubah dunia ke era otomatisasi. Dalam perang di Timur Tengah dan Ukraina, militer sudah banyak mengandalkan senjata otomatis tanpa awak.

Taksi otomatis tanpa sopir (robotaxi) juga berkembang pesat di beberapa negara, terutama di Amerika Serikat (AS) dan China. Tool AI yang kian menjamur dalam di berbagai aplikasi, telah mengubah hidup manusia sehari-hari.


Meskipun sistem otomatis bisa meningkatkan efisiensi dan produktivitas untuk menggenjot pertumbuhan, tetapi konsekuensinya tak main-main bagi kelompok pekerja. Banyak pekerjaan yang digadang-gadang akan punah di masa depan.

Bahkan, saat ini sudah terlihat gelombang PHK yang makin menggila di berbagai belahan dunia. Perusahaan juga mulai lesu dalam perekrutan karyawan baru, sebab beberapa peran sudah bisa dilakukan tool AI.

Komitmen Raksasa Ecommerce China

Namun, patut diapresiasi komitmen yang digaungkan raksasa e-commerce asal China, JD.com. Ketika banyak perusahaan AS dan negara lain melakukan PHK dan 'menyalahkan' AI, JD.com menegaskan sikapnya untuk tidak berbuat hal serupa.

Dikutip dari Economic Times, Jumat (29/5/2026), pendiri JD.com, Liu Qiangdong, bersumpah akan mencegah perusahaannya melakukan PHK massal akibat otomatisasi. Sebanyak 900.000 pekerja JD.com bisa bernapas lega.

Komentar Liu diungkapkan menyusul kekhawatiran yang makin besar dari para pekerja terkait nasib mereka di era adopsi AI dan robotika.

JD.com merupakan salah satu perusahaan dengan jumlah karyawan terbesar di China. "Kami berjanji akan melakukan segala upaya untuk melindungi pekerjaan bagi ratusan ribu staf, termasuk pekerja kerah biru," kata Liu dalam pidato internal pada pekan lalu, menurut sebuah video yang beredar di media sosial.

"JD.com tidak akan memecat satu pun pekerja lini depan yang digantikan oleh mesin," katanya. JD.com tidak menanggapi permintaan komentar melalui email.

Dilema Besar di China

Perusahaan-perusahaan China berlomba-lomba menerapkan sistem AI sebagai bagian dari dorongan yang diarahkan negara untuk mendominasi teknologi baru ini.

Namun, perintah-perintah tersebut menghadirkan tantangan bagi para perencana Partai Komunis China yang ingin menjaga stabilitas pasar tenaga kerja di tengah perlambatan ekonomi dan tingginya angka pengangguran kaum muda di negara tersebut.

JD.com mempekerjakan staf untuk beragam peran, mulai dari kurir dan petugas toko, hingga pelatih AI dan teknisi perawatan robot. Perusahaan sedang bereksperimen dengan sejumlah teknologi tanpa awak.

Menurut pengajuan baru-baru ini, teknologi tersebut termasuk gudang tanpa awak, pengiriman drone, kendaraan otonom, stasiun pengiriman tanpa awak, dan toko serba ada.

Raksasa e-commerce tersebut juga telah mendirikan lebih dari 80 basis pelatihan di seluruh negeri, dengan mengatakan bahwa basis-basis tersebut akan berfungsi untuk melatih kembali para pekerja dengan keterampilan seperti pemeliharaan dan servis sistem otomatis, kata Liu.

Intervensi Pemerintah China

Komentar Liu muncul setelah pengadilan China memutuskan pada akhir April bahwa perusahaan tidak dapat memberhentikan karyawan atau memotong gaji mereka hanya untuk mengganti mereka dengan sistem AI.

Otoritas China juga memutuskan tahun lalu bahwa perusahaan secara hukum diwajibkan untuk melatih ulang atau menugaskan kembali pekerja sebelum mereka dapat diberhentikan. Hal ini bertujuan menjadi pengamanan awal terhadap penggantian pekerjaan oleh AI yang jarang diterapkan oleh negara lain.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Komdigi Mau Adopsi AI Hingga Pelosok, Infrastruktur Siap?