Awas! Sampah Langit-Potongan Badan Roket Bisa Jatuh Hantam Jakarta
Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman sampah antariksa jatuh ke Bumi disebut semakin meningkat seiring melonjaknya aktivitas peluncuran satelit dan roket dalam beberapa tahun terakhir. Wilayah di belahan selatan dunia, termasuk Jakarta, disebut menjadi area yang lebih berisiko terdampak puing luar angkasa tersebut.
Laporan NASA menyebut rata-rata satu potong sampah antariksa jatuh kembali ke Bumi setiap hari dalam 50 tahun terakhir. Meski belum pernah ada korban luka serius akibat insiden tersebut, para ilmuwan memperingatkan potensi bahayanya terus meningkat.
Sebuah studi yang terbit pada 2022 bahkan memperkirakan ada peluang 10% sampah antariksa tak terkendali jatuh ke Bumi dan memicu korban manusia dalam satu dekade ke depan.
Yang mengkhawatirkan, risiko terbesar disebut berada di negara-negara Global South atau kawasan berkembang di lintang selatan. Kota-kota seperti Jakarta, Dhaka di Bangladesh, hingga Lagos di Nigeria diperkirakan memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar terkena jatuhan badan roket dibanding New York, Beijing, atau Moskow.
Orbit Bumi saat ini juga semakin padat oleh limbah antariksa. Tercatat ada sekitar 25 ribu objek sampah antariksa berukuran lebih dari 10 sentimeter yang masih mengorbit Bumi dan bisa dipantau. Selain itu, terdapat jutaan fragmen kecil lain yang tidak terlacak.
Mengutip IFL Science, Jumat (22/5/2026), secara total, sekitar 9 ribu ton logam dan material bekas satelit maupun roket saat ini terus bergerak mengelilingi Bumi.
Fenomena jatuhnya puing antariksa baru-baru ini bahkan sempat disaksikan langsung astronaut NASA Chris Williams dari Stasiun Luar Angkasa Internasional atau ISS.
Saat ISS melintas di atas Afrika Barat pada 27 April lalu, Williams melihat objek bercahaya memasuki atmosfer dan pecah menjadi serpihan api di langit.
"Saya melihat ekornya membesar lalu pecah menjadi hujan serpihan kecil. Itu benar-benar pertunjukan cahaya," kata Williams melalui media sosialnya.
Meski kemungkinan puing tersebut mencapai permukaan Bumi relatif kecil, risikonya tidak sepenuhnya nol. Dalam proses peluncuran, wahana antariksa biasanya melepaskan beberapa komponen seperti pendorong roket sekali pakai untuk mengurangi beban. Komponen tersebut dirancang agar terbakar habis saat kembali memasuki atmosfer.
Namun para ilmuwan menyoroti usia sampah antariksa kini semakin panjang karena material pembuatnya semakin kuat dan tahan panas. Di satu sisi, teknologi tersebut membuat perjalanan luar angkasa lebih aman dan efisien. Di sisi lain, risiko sampah antariksa mencapai permukaan Bumi juga ikut meningkat.
(dce) Add
source on Google