Iran Lumpuh Total, Pedagang Bangkrut-Kondisi Warga Memprihatinkan
Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan pemblokiran internet berkepanjangan di Iran dilaporkan mulai memukul mundur roda perekonomian negara tersebut. Dampak dari kelumpuhan digital ini tidak hanya menghantam sektor bisnis makro, tetapi juga membuat kondisi kehidupan masyarakat sipil di berbagai penjuru wilayah kian memprihatinkan.
Berdasarkan laporan lembaga pemantau netralitas internet global, NetBlocks, estimasi kerugian ekonomi yang diderita Republik Islam Iran akibat pembatasan akses internet ini telah menembus angka fantastis, yakni lebih dari US$ 2,6 miliar (Rp46 triliun).
Pendiri Netblocks, Alp Toker, mengatakan dampak pemadaman internet tidak hanya menghantam ekonomi digital, tetapi juga sektor informal dan bisnis independen yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat.
"Ada dampak besar, bukan hanya terhadap ekonomi digital Iran tetapi juga lebih luas lagi, termasuk sektor ekonomi informal, perdagangan independen, dan bisnis nonresmi," kata Toker.
Media Iran, Donya-e Eqtesad, bahkan menyebut dampak pemadaman internet sebagai "gempa bumi senyap" yang melumpuhkan ekonomi negara tersebut, setara dengan dampak serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
Surat kabar itu memperkirakan kerugian ekonomi Iran mencapai lebih dari empat kuadriliun rial atau hampir setara US$2,5 miliar (Rp44 triliun) berdasarkan kurs pasar terbuka.
UMKM Gulung Tikar
Pembatasan digital berskala masif yang awalnya diberlakukan menyusul eskalasi ketegangan geopolitik dan keamanan dalam negeri, kini berubah menjadi bumerang bagi sektor perdagangan lokal.
Mayoritas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Iran terpukul hebat akibat hilangnya konektivitas.
Amir, salah seorang pelaku bisnis retail pakaian di Teheran, mengungkapkan bahwa lini usahanya kini berada di ambang kebangkrutan. Selama ini, ia mengandalkan platform media sosial global seperti Instagram untuk memasarkan produk dan menjaring konsumen.
Pemblokiran akses internet membuat Amir terputus dengan konsumen dan mengancam kelangsungan bisnisnya.
Warga Putus Kontak
Kelumpuhan digital yang telah berjalan berbulan-bulan ini juga membuat masyarakat Iran terisolasi dari dunia luar. Warga kesulitan mengakses layanan perbankan digital, transaksi logistik tersendat, hingga menyebabkan komunikasi dengan kerabat di luar negeri putus total.
Kondisi ekonomi domestik yang sebelumnya sudah tertekan akibat sanksi internasional, kini kian diperparah dengan hilangnya ekosistem ekonomi digital.
Para pengamat menilai, jika pemerintah tidak segera memulihkan akses internet, potensi kerugian finansial negara akan terus membengkak dan memicu gelombang kebangkrutan massal pada sektor swasta yang bergantung penuh pada teknologi informasi.
Iran memiliki populasi sekitar 90 juta jiwa dengan tingkat penggunaan smartphone mencapai 134%.
Perempuan di Posisi Rentan
Wakil Presiden Iran untuk Urusan Perempuan, Zahra Behrouz Azar, memperingatkan bahwa perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak akibat blackout internet tersebut.
Menurut dia, mayoritas pekerja mandiri dan pemilik usaha kecil di Iran merupakan perempuan yang mengandalkan platform e-commerce dan media sosial untuk menjual produk maupun jasa.
Sementara itu, seorang pejabat senior Kamar Dagang, Industri, Pertambangan, dan Pertanian Iran di Teheran menyebut larangan internet telah memicu "gelombang besar" pengangguran.
Pelaku industri sebelumnya juga memperingatkan bahwa gangguan internet menyebabkan kerugian bisnis Iran mencapai US$30 juta hingga US$40 juta per hari.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]