Tanda Kiamat Sudah Dekat Makin Jelas Muncul di Sawah

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Kamis, 21/05/2026 10:39 WIB
Foto: Ilustrasi padi sawah siap panen. (Dok. Kementan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan iklim yang membuat Bumi semakin panas ternyata berdampak pada tumbuhan padi. Sebuah studi menemukan padi bisa tidak bertahan karena adanya kenaikan suhu.

Penelitian tersebut menemukan suhu udara telah melebihi batasan budi daya padi dalam 9.000 tahun terakhir. Pemanasan Bumi juga disebutkan lebih cepat 5.000 kali dibanding kemampuan padi untuk berevolusi.

Penulis utama studi Nicolas Gauthier menjelaskan keadaan ini membuat padi mungkin telah mencapai batas termal. Sebutan ini merujuk pada titik saat padi tidak bisa dengan mudah beradaptasi pada kenaikan suhu.


Bahkan, Gauthier mengatakan pemanasan global di masa depan juga dapat mengganggu miliaran orang yang bekerja pada budi daya padi.

Dalam sejarahnya, tumbuhan padi berada di tempat dengan suhu rata-rata tahunan di bawah 28 derajat Celcius dan maksimal 33 derajat Celcius.

Tempat-tempat yang dingin mungkin akan lebih hangat karena adanya perubahan iklim. Gauthier menjelaskan kemungkinan ada pergeseran geografis dalam budidaya.

Gauthier mengatakan tantangannya adalah sawah yang dibangun selama berabad-abad tidak mudah untuk pindahkan. Pada akhirnya gangguan ini bakal berdampak besar pada perekonomian dan ketahanan pangan.

"Anda bisa mempertahankan produksi beras global, namun sama dengan memindahkan lahan budidaya. Tapi ini tidak menyelesaikan masalah untuk orang yang berada di Asia Selatan yang konsumsinya bergantung pada beras," kata Gauthier yang merupakan Antropolog dan Ahli Geografi Museum Sejarah Alam Florida, dikutip dari Live Science, Kamis (21/5/2026).

Sebagai informasi, fotosintesis padi berhenti pada suhu sekitar 40 derajat Celcius. Meski tanaman itu menyukai panas, namun suhu tinggi yang berlebihan bisa mempengaruhi viabilitas serbuk sari dan pertumbuhan biji.

Masalah lainnya adalah, padi membutuhkan banyak air. Perubahan musim hujan dan musim kemarau menjadi masalah, selain juga kenaikan permukaan laut yang dapat membuat air asin menggenang sawah di dataran rendah.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google