Terungkap Serangan Diam-Diam Runtuhkan Senjata Nuklir Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Peneliti keamanan siber mengungkap keberadaan malware canggih bernama Fast16 yang diduga digunakan Amerika Serikat dan Israel untuk menyabotase program nuklir Iran secara diam-diam sejak beberapa tahun lalu.
Laporan terbaru dari Symantec menyebut Fast16 dirancang untuk memanipulasi simulasi pengujian ledakan nuklir agar para ilmuwan Iran percaya bahwa eksperimen mereka gagal, padahal hasil sebenarnya menunjukkan sebaliknya.
Malware tersebut menargetkan software simulasi khusus seperti LS-DYNA dan AUTODYN yang digunakan untuk menghitung ledakan bertekanan tinggi dalam pengembangan hulu ledak nuklir.
Menurut peneliti Symantec, Fast16 bekerja dengan mengganti data asli hasil simulasi menjadi data palsu tepat saat pengujian memasuki fase kritis pembentukan reaksi berantai nuklir atau "supercriticality".
Akibat manipulasi itu, para insinyur diyakini mengira tekanan di inti uranium tidak cukup kuat untuk menghasilkan ledakan nuklir.
Pakar nuklir dari Institute for Science and International Security, David Albright, mengatakan seluruh jejak operasi malware mengarah ke program nuklir Iran.
"Waktu operasinya, akses yang dibutuhkan untuk membuat malware ini, dan fokusnya pada uranium menunjukkan bahwa targetnya adalah program nuklir Iran," kata Albright, dikutip dari ZeroDay, Senin (18/5/2026).
Fast16 disebut memiliki pola serangan mirip Stuxnet, malware terkenal buatan AS dan Israel yang sebelumnya digunakan untuk merusak sentrifugal pengayaan uranium Iran.
Bedanya, Stuxnet menyerang perangkat fisik, sementara Fast16 fokus memanipulasi data simulasi agar para ilmuwan salah mengambil kesimpulan.
Peneliti menemukan malware tersebut sebenarnya sudah aktif sejak 2005, hampir bersamaan dengan pengembangan Stuxnet. Hal itu memunculkan dugaan bahwa keduanya merupakan bagian dari operasi besar Barat untuk memperlambat ambisi nuklir Iran.
Keberadaan Fast16 pertama kali terungkap setelah namanya muncul dalam dokumen alat peretasan NSA yang dibocorkan kelompok Shadow Brokers pada 2017.
Sampel malware kemudian ditemukan di platform VirusTotal, namun baru berhasil dipecahkan beberapa tahun kemudian dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Peneliti SentinelOne mengaku awalnya kesulitan memahami fungsi Fast16 sebelum akhirnya AI membantu mengungkap bahwa malware tersebut memang dirancang untuk menyabotase simulasi presisi tinggi.
Symantec menyebut Fast16 termasuk malware paling kompleks yang pernah ditemukan karena membutuhkan pemahaman mendalam soal proses fisika nuklir dan perangkat lunak simulasi tingkat tinggi.
"Level keahlian yang dibutuhkan untuk membuatnya sangat besar," kata Direktur Teknis Symantec Vikram Thakur.
Menurut peneliti, tujuan utama Fast16 bukan menghancurkan fasilitas nuklir Iran secara langsung, melainkan memperlambat pengembangan bom nuklir dengan menciptakan kebingungan, membuang waktu riset, dan menurunkan moral para ilmuwan.
Pengungkapan terbaru soal Fast16 muncul di tengah upaya Amerika Serikat dan Israel yang masih terus menekan program nuklir Iran. Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa program nuklir modern tidak hanya rentan terhadap serangan fisik, tetapi juga sabotase digital tingkat tinggi.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]