Satu Dunia Nyaris Ambruk, Peneliti Google Ungkap Fakta Mengerikan

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 12/05/2026 21:00 WIB
Foto: Google. (REUTERS/Carlos Jasso/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok Intelijen Ancaman Google (GTIG) mengungkap laporan yang menyebut pihaknya berhasil menangkal aksi peretas (hacker) yang menggunakan model kecerdasan buatan (AI) untuk merencanakan operasi eksploitasi kerentanan berskala besar.

GTIGĀ mendeteksi penggunaan AI oleh hacker untuk menemukan kerentanan eksploitasi zero-day untuk membobol proses otentikasi dua-faktor (two-factor).


Sebagai informasi, kerentanan zero-day merujuk pada celah software yang tak diketahui oleh pengembang layanan. Kerentanan zero-day ini biasanya dimanfaatkan penjahat siber untuk melancarkan aksi penyerangan.

"Pelaku ancaman kriminal berencana memanfaatkan kerentanan zero-day untuk melakukan eksploitasi masif. Namun, kami secara proaktif mampu menangkalnya dan mencegah rencana hacker," tulis Google dalam sebuah unggahan, tanpa menuliskan identitas kelompok hacker yang dimaksud.

Google mengatakan model AI yang dimanfaatkan bukan model Gemini milik perusahaan, dikutip dari CNBC International, Selasa (12/5/2026).

Temuan ini menunjukkan bagaimana hacker memanfaatkan tool AI yang tersedia, seperti OpenClaw, untuk mengeksploitasi celah software. Langkah ini secara khusus dilakukan untuk menghancurkan perusahaan, lembaga pemerintah, dan organisasi lain.

Pada April lalu, Anthropic menunda peluncuran model AI canggih Mythos secara massal. Alasannya, Anthropic khawatir model tersebut akan digunakan para penjahat siber untuk mengidentifikasi dan menargetkan kerentanan-kerentanan pada software lawas.

Kekhawatiran itu memicu gelombang kekhawatiran di berbagai industri. Bahkan, Gedung Putih menggelar pertemuan khusus dengan para pemimpin bisnis dan raksasa teknologi, untuk membahas hal ini.

Anthropic hanya merilis model AI Mythos ke beberapa kelompok penguji, termasuk Apple, CrowdStrike, Microsoft, dan Palo Alto Networks.

Pada pekan lalu, OpenAI mengumumkan model GPT-5.5-Cyber, yakni varian dari model AI terbaru yang saat ini masih dalam tinjauan khusus dan terbatas oleh tim keamanan siber yang memiliki kapasitas.

Dalam laporan pada awal pekan ini, Google menyoroti beberapa contoh bagaimana peretas sudah menggunakan tool seperti OpenClaw untuk menemukan kerentanan, melancarkan serangan siber, dan mengembangkan malware.

Kelompok-kelompok yang terkait dengan China dan Korea Utara menunjukkan minat yang signifikan dalam memanfaatkan AI untuk penemuan kerentanan, menurut laporan tersebut.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inovasi Teknologi Fortinet Manfaatkan AI Untuk Keamanan Siber