Raja Game Dunia Tumbang, Krisis 2026 Sudah Mengkhawatirkan
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja Nintendo terus memburuk, seiring dengan krisis chip memori yang memicu lonjakan kenaikan harga perangkat elektronik seperti HP, laptop, dan konsol game. Laporan terbaru menyebutkan saham yang merosot 7% pada perdagangan Senin kemarin (11/5/2026).
Pemicunya adalah kekhawatiran tidak ada judul game unggulan di masa depan dan kenaikan harga konsol Switch 2.
Sebenarnya penjualan perangkat keras Nintendo cukup kuat pada tahun fiskal yang berakhir Maret. Begitu juga kehadiran game populer seperti Pokemon Pokopia.
Namun, Nintendo dianggap kekurangan potensi game blockbuster. Bahkan analis menyebut perusahaan kurang percaya diri dengan lini produknya sendiri.
"Penurunan proyeksi pengiriman game dari tahun ke tahun berisiko menandakan Nintendo kurang percaya diri dengan lini produknya," kata analis Morningstar, Kazunori Ito, dikutip dari Reuters, Selasa (12/5/2026).
Selain itu, Nintendo telah mengonfirmasi kenaikan harga konsol Switch 2. Kenaikan mencapai 10 ribu yen (sekitar Rp 1 juta) menjadi Rp 59.980 yen untuk pasar Jepang mulai 25 Mei mendatang, dan di Amerika Serikat (AS) yang baru dilakukan 1 September 2026.
Penyesuain harga diambil saat banyak produsen elektronik dihanyam badai kelangkaan chip memori. Sejumlah perusahaan memutuskan menaikkan harga perangkat.
Namun keputusan Nintendo menaikkan harga kemungkinan bisa berdampak besar. Reuters mencatat basis terbesar audiens konsol milik perusahaan adalah casual gamer, yang cenderung sensitif pada perubahan harga.
Kondisi berbeda terjadi pada Sony, di mana PlayStation 5 telah lebih lama berada di pasaran yang membuat posisi perusahaan lebih baik dalam kondisi tersebut.
"Sony berada dalam posisi lebih baik meneruskan harga chip memori yang lebih tinggi pada konsumen," kata Amir Anvarzadeh dari Asymmetric Advisors.
(fab/fab) Add
source on Google