Iran Lumpuh Total, Nasib Warga Makin Memprihatinkan

Intan Rakhmayanti, CNBC Indonesia
Selasa, 12/05/2026 07:55 WIB
Foto: Bandara Internasional Imam Khomeini di Teheran mulai kembali melayani sejumlah penerbangan internasional pada Sabtu (24/4/2026). (via REUTERS/Majid Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia - Blokir internet berkepanjangan di Iran mulai berdampak pada perekonomian negara tersebut. Sejumlah pelaku usaha memperingatkan kondisi itu dapat memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal hingga penutupan bisnis di tengah perang dan tekanan ekonomi yang terus memburuk.

Pemerintah Iran memberlakukan pembatasan internet ketat setelah konflik dengan Israel dan Amerika Serikat pecah pada akhir Februari lalu. Sebelumnya, akses internet juga sempat diblokir saat demonstrasi besar-besaran terjadi di berbagai wilayah Iran.

Lembaga pemantau internet global Netblocks menyebut gangguan yang sudah berlangsung lebih dari 70 hari itu sebagai pemadaman internet nasional terlama yang pernah terjadi di masyarakat modern yang terkoneksi secara digital.


Netblocks memperkirakan pembatasan internet telah menyebabkan kerugian ekonomi Iran mencapai lebih dari US$2,6 miliar.

Media Iran, Donya-e Eqtesad, bahkan menyebut dampak pemadaman internet sebagai "gempa bumi senyap" yang melumpuhkan ekonomi negara tersebut, setara dengan dampak serangan udara Amerika Serikat dan Israel.

Surat kabar itu memperkirakan kerugian ekonomi Iran mencapai lebih dari empat kuadriliun rial atau hampir setara US$2,5 miliar berdasarkan kurs pasar terbuka.

Pendiri Netblocks, Alp Toker, mengatakan dampak pemadaman internet tidak hanya menghantam ekonomi digital, tetapi juga sektor informal dan bisnis independen yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat.

"Ada dampak besar, bukan hanya terhadap ekonomi digital Iran tetapi juga lebih luas lagi, termasuk sektor ekonomi informal, perdagangan independen, dan bisnis nonresmi," kata Toker.

Iran sendiri telah lama dilanda krisis ekonomi sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan sanksi keras terhadap negara tersebut pada masa jabatan pertamanya. Kebijakan itu bertujuan menekan Iran terkait program nuklir serta kebijakan luar negerinya.

Kondisi semakin memburuk setelah nilai tukar rial anjlok tajam dan memicu demonstrasi besar. Di sisi lain, pemblokiran internet hampir total membuat aktivitas masyarakat lumpuh, mulai dari pekerjaan, pendidikan, hingga komunikasi sehari-hari.

Situasi ini berdampak besar mengingat Iran memiliki populasi sekitar 90 juta jiwa dengan tingkat penggunaan smartphone mencapai 134%.

Pekan lalu, Wakil Presiden Iran untuk Urusan Perempuan, Zahra Behrouz Azar, memperingatkan bahwa perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak akibat blackout internet tersebut.

Menurut dia, mayoritas pekerja mandiri dan pemilik usaha kecil di Iran merupakan perempuan yang mengandalkan platform e-commerce dan media sosial untuk menjual produk maupun jasa.

Sementara itu, seorang pejabat senior Kamar Dagang, Industri, Pertambangan, dan Pertanian Iran di Teheran menyebut larangan internet telah memicu "gelombang besar" pengangguran.

Pelaku industri sebelumnya juga memperingatkan bahwa gangguan internet menyebabkan kerugian bisnis Iran mencapai US$30 juta hingga US$40 juta per hari.

Amir mengaku bisnis pakaiannya sangat bergantung pada media sosial seperti Instagram untuk penjualan dan pemasaran. Ia mengatakan popularitas platform tersebut selama ini menjadi kunci pertumbuhan mereknya di Iran.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Fortinet Accelerate 2026: Memimpin Keamanan Siber di Era AI