Berani Tendang China, Risikonya Fatal Tak Main-Main

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
07 May 2026 21:00
Foto Kombinasi Bendera China dan Bendera EU. (Ist)
Foto: Foto Kombinasi Bendera China dan Bendera EU. (Ist)

Jakarta, CNBC Indonesia - Langkah Uni Eropa (UE) untuk menyingkirkan pemasok teknologi asal China dari sektor-sektor strategis diperkirakan bakal menimbulkan kerugian ekonomi. Nilainya bahkan disebut menembus lebih dari US$400 miliar atau sekitar Rp 7.000 triliun dalam lima tahun ke depan.

Risiko tersebut muncul setelah Uni Eropa mengusulkan aturan keamanan siber baru yang akan menghapus secara bertahap komponen dan peralatan dari pemasok yang dianggap 'berisiko tinggi', termasuk perusahaan China seperti Huawei.

Kamar Dagang China untuk Uni Eropa (CCCEU) dalam laporan terbarunya menyebut kebijakan tersebut dapat membebani ekonomi Eropa hingga 367,8 miliar euro atau sekitar US$432,8 miliar pada periode 2026-2030.

Mengutip Reuters, laporan yang disusun bersama KPMG itu menyebut Uni Eropa harus mengganti perangkat keras yang sudah terpasang, mencatat penurunan nilai aset, hingga menghadapi penurunan efisiensi dan keterlambatan digitalisasi.

Inisiatif ini menjadi bumerang bagi Uni Eropa. Sektor energi dan telekomunikasi diperkirakan menjadi yang paling terpukul. Padahal, kedua sektor itu merupakan tulang punggung agenda transisi hijau dan digital Uni Eropa.

Jerman diproyeksikan menjadi negara dengan dampak terbesar. Biaya yang harus ditanggung negara ekonomi terbesar Eropa itu diperkirakan mencapai 170,8 miliar euro.

Selain Jerman, lima negara lain yang diperkirakan mengalami kerugian lebih dari 10 miliar euro adalah Prancis, Italia, Spanyol, Polandia, dan Belanda.

Di sisi lain, China mulai meningkatkan tekanan terhadap Brussel. Beijing meminta Uni Eropa menghapus klausul terkait negara berisiko dan pemasok berisiko tinggi dalam rancangan aturan tersebut.

Pekan lalu, pemerintah China bahkan mengancam akan mengambil langkah balasan jika Uni Eropa tetap melanjutkan kebijakan tersebut tanpa perubahan besar.

Sementara itu, Komisi Eropa juga memperluas pembatasan terhadap teknologi China. Pada Senin, Komisi merekomendasikan pembatasan penggunaan dana Uni Eropa untuk proyek yang menggunakan inverter listrik dari pemasok berisiko tinggi.

Uni Eropa menilai perangkat tersebut berpotensi digunakan untuk mematikan jaringan listrik negara anggota dari jarak jauh.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Seruan Boikot China Menggila, Taktik Amerika Berhasil


Most Popular
Features