Adopsi AI Meningkat, Perusahaan Perlu Perkuat Kesiapan SDM
Jakarta, CNBC Indonesia - Masifnya transformasi teknologi membuat adopsi kecerdasan buatan (AI) di dunia menjadi sebuah keniscayaan. AI tidak hanya digunakan pada skala industri, melainkan juga dapat dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Mengacu pada data PwC Workforce Hopes and Fears 2025 Indonesia yang dipaparkan DataOn, sebanyak 69% pekerja di Indonesia telah menggunakan AI dalam satu tahun terakhir. Sementara itu, hanya 16% pekerja yang menggunakan Generative AI secara harian untuk mendukung pekerjaan sehari-hari.
CEO DataOn Indonesia, Gordon Enns mengatakan, data tersebut menunjukkan bahwa adopsi AI sudah mulai terjadi secara luas. Namun, pemanfaatannya dalam pekerjaan sehari-hari masih belum merata.
"Kita telah membangun infrastruktur untuk menghadirkan teknologi AI, tetapi masih tertinggal dalam pemanfaatan aktualnya, terutama di tempat kerja," ujar Gordon dalam CNBC Indonesia Tech & Telco Forum 2026, Rabu (6/5/2026).
Ia menambahkan, tantangan adopsi AI tidak hanya terletak pada ketersediaan teknologi, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung di dalam organisasi. Beberapa tantangan tersebut antara lain sistem HR yang masih legacy, teknologi yang belum sepenuhnya mutakhir, kurangnya pengembangan keterampilan, serta data karyawan yang masih terfragmentasi.
Dalam paparannya, DataOn juga menyoroti bahwa kurang dari 30% masyarakat Indonesia memiliki keterampilan digital tingkat lanjut, yang menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun workforce yang siap menghadapi AI. Selain itu, sekitar 23 juta pekerja diperkirakan membutuhkan peningkatan kemampuan atau reskilling dalam beberapa tahun ke depan karena dampak teknologi.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang besar bagi perusahaan untuk memperkuat kesiapan SDM dalam menghadapi adopsi AI. Perusahaan tidak hanya perlu berinvestasi pada teknologi, tetapi juga pada peningkatan keterampilan karyawan, modernisasi proses kerja, dan penguatan data tenaga kerja.
Gordon menilai, jika Indonesia benar-benar bergerak ke arah ekonomi digital, sumber daya manusia memegang peran penting sebagai bagian dari infrastruktur utama. Karena itu, HR tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai fungsi administratif, melainkan sebagai mitra strategis dalam transformasi bisnis.
Menurutnya, software HR yang sebelumnya berperan sebagai system of record kini perlu berkembang menjadi workforce intelligence hingga decision engine yang dapat membantu perusahaan mengambil keputusan berbasis data.
"Kita perlu memiliki data yang baik sejak awal. Kita juga perlu memiliki people yang sudah enabled, lalu teknologi AI dapat membantu menjadi decision engine di dalam HR," kata Gordon.
Dengan fondasi data, sistem, dan keterampilan yang tepat, teknologi HR dapat mendukung perusahaan dalam meningkatkan produktivitas, memperkuat pengambilan keputusan, dan membangun organisasi yang lebih siap menghadapi ekonomi digital.
source on Google [Gambas:Video CNBC]