Heboh Campak Menular dari Sapi, Peneliti BRIN Ungkap Fakta Sebenarnya

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Selasa, 05/05/2026 07:05 WIB
Foto: Ilustrasi Campak. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penyakit campak mengalami peningkatan signifikan selama tahun 2026. Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harimat Hendarwan menjelaskan soal penyebab penyakit tersebut.

Dia mengatakan campak disebabkan oleh virus campak atau measles virus, yang merupakan virus RNA beruntai tunggal, berselubung dan beruntai negatif. Ini termasuk dalam genus Morbillivirus dari famili Paramyxoviridae.

"Sejauh ini, manusia adalah satu-satunya inang alami," ungkap Harimat, dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (4/5/2026).


Virus campak merupakan hasil evolusi dari Rinderpest, yakni penyakit yang menyerang sapi dan mematikan. Diperkirakan lompatan spesies dari sapi ke manusia terjadi pada abad ke-6 SM, saat pertumbuhan populasi dan upaya manusia untuk menjinakkan sapi.

Menurut Harimat, campak adalah salah satu penyakit virus paling menular. Penyebaran penyakit terjadi dengan kontak dari cairan hidung atau tenggorokan penderita yang terinfeksi. Bisa karena pernapasan, batuk atau bersin.

Mereka yang tidak divaksin bisa dengan mudah tertular. Bahkan disebutkan dapat tertular hanya dengan masuk ke ruangan tempat penderita berada.

Sebagai informasi, terdapat 63.769 kasus suspek campak di Indonesia sepanjang 2025. Sementara itu 11.095 kasus telah terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian (Case Fatality Rate/CFR 0,1%).

Data Kementerian Kesehatan mencatat 8.224 kasus suspek campak, dengan 572 kasus terkonfirmasi dan 4 kematian (CFR 0,05%) hingga minggu ke-7 pada 2026. Dalam periode yang sama, terdapat 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Gejala Campak

Penyakit campak melewati masa inkubasi selama 10-14 hari, dengan manifesti awal dari demam disertai dengan batuk, pilek dan konjungtivitis. Gejala lainnya adalah diare, muntah, sakit perut, sakit tenggorokan, malaise, limfadenopati ringan, sakit kepala, dan iridosiklitis yang menyebabkan fotofobia.

Demam akan sangat tinggi sekitar 39-40,5 derajat Celcius pada hari ke-4. Ruam morbiliform berkembang beberapa hari kemudian, yang tersebar mulai dari wajah, leher bagian atas, belakang telingan dan bertahap menyebar ke bawah.

"Ruam berlangsung selama 3 hingga 7 hari dan memudar dengan pola arah yang sama seperti saat muncul," terang Harimat.

Penderita juga akan mengalami munculnya bintik koplik. Dia menambahkan bintik koplik akan muncul dua hari sebelum timbulnya ruam.

"Sebelum timbulnya ruam, yakni sekitar 2 hari sebelum timbulnya ruam, dapat terlihat di mukosa mulut adanya bintik koplik (koplik spot) yang berupa lesi berbentuk papula kecil berwarna biru keputihan berukuran 2 hingga 3 mm yang menonjol di atas dasar merah. Bintik koplik ini merupakan tanda khas campak," jelasnya.

Jumlah bintik koplik bisa terus bertambah sekitar 4 hari. Diagnosis dapat dilakukan dengan kemunculan bintik koplik sebelum ruam terlihat.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trust Issue, Jadi PR Fintech Syariah Garap Pasar Muslim Digital