Ancaman Super El Nino Mengintai, Tandanya Sudah Sampai di Dekat RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Para ilmuwan menemukan fenomena tidak biasa terjadi di Samudra Pasifik yang berpotensi memicu El Nino pada 2026.
Setiap beberapa tahun, Samudra Pasifik mengubah pola cuaca global. Dampaknya mulai dari perubahan curah hujan, kekeringan hingga tekanan terhadap ekosistem laut. Namun pada 2026, peneliti menemukan pola yang tidak biasa dan jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Peneliti mendeteksi munculnya tiga area perairan hangat secara bersamaan di Pasifik tropis, masing-masing di dekat Indonesia, lepas Amerika Tengah, dan sepanjang Amerika Selatan. Ketiga area ini membentuk cincin panas yang mengelilingi zona tengah yang lebih dingin.
Pola ini dikenal sebagai annular warming dan belum pernah terjadi dengan intensitas seperti sekarang dalam 40 tahun terakhir. Bahkan, peristiwa El Nino ekstrem sebelumnya tidak menunjukkan struktur serupa.
Selain suhu permukaan, ilmuwan juga menemukan panas besar tersimpan di bawah permukaan laut. Energi tersebut berpotensi menjadi bahan bakar bagi El Nino kuat.
"Pasifik tropis menunjukkan pola pemanasan annular yang tidak biasa pada musim semi 2026, yang merupakan yang terbesar dalam 40 tahun terakhir. Lapisan atas samudra juga menyimpan lebih banyak panas daripada yang dilepaskannya," kata Tao Lian, penulis utama studi tersebut, dikutip dari laman Earth, Selasa (28/4/2026).
Ia menambahkan, "Kami menunjukkan dalam serangkaian eksperimen model bahwa kandungan panas saat ini cukup untuk menghasilkan peristiwa El Niño moderat menjelang akhir 2026, dan pemanasan annular yang saat ini kami amati di Pasifik dapat meningkatkan El Nino ini ke kategori super."
Kondisi ini diperkuat oleh sisa panas dari fase La Nina sebelumnya. Saat La Nina melemah, panas tertahan di bawah permukaan laut dan kini mulai bergerak ke timur, mendorong pembentukan El Nino.
Gelombang panas bawah laut bergerak melintasi Pasifik, suhu permukaan khatulistiwa meningkat, dan pada Maret 2026 muncul semburan angin barat kuat di Pasifik barat.
"Fluktuasi atmosfer frekuensi tinggi pada musim semi dan awal musim panas memainkan peran penting dalam intensitas dan struktur El Nino," kata Dake Chen, peneliti senior dalam studi tersebut.
"Sebagai contoh, kami mengamati gangguan angin barat yang kuat pada akhir Maret, yang berarti probabilitas super El Nino meningkat."
Untuk memahami dampak cincin pemanasan ini, para peneliti menggunakan model iklim canggih. Mereka menjalankan berbagai simulasi untuk menguji kondisi berbeda.
Simulasi model iklim menunjukkan tanpa pola cincin pemanasan tersebut, El Nino yang terbentuk hanya berada di kategori moderat. Namun dengan cincin panas, intensitasnya melonjak menjadi super El Nino.
Cincin pemanasan bahkan menambah hampir 1 derajat Celsius pada puncak suhu yang diprediksi. Dalam skala iklim, kenaikan ini dianggap sangat besar dan berpotensi memicu dampak global.
Jika super El Nino benar-benar terjadi, Asia Tenggara dan Australia berisiko mengalami kekeringan parah.
Di sisi lain, Amerika Selatan dapat menghadapi banjir besar. Terumbu karang juga terancam mengalami pemutihan massal, sementara sektor perikanan berpotensi terpukul.
Meski demikian, para ilmuwan menekankan prediksi masih memiliki ketidakpastian. Sistem laut dan atmosfer bisa berubah secara tiba-tiba, terutama akibat semburan angin mendadak atau pengaruh samudra lain.
"El Nino tidak pernah berhenti mengejutkan kita," kata Lian. "Kita hanya bisa mengantisipasi perilakunya yang misterius berdasarkan proses yang diketahui dalam model saat ini dan batas pemahaman yang kita miliki," imbuhnya.
(fab/fab) Add
source on Google