Banyak Anak Muda Kena Kanker Usus, Peneliti Ungkap Alasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus kanker usus (kolorektal) pada usia muda terus meningkat secara global dalam beberapa dekade terakhir. Penelitian terbaru menemukan dugaan penyebab baru yang cukup mengejutkan, yakni bahan pembasmi gulma yang digunakan secara luas di berbagai negara.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine menunjukkan picloram berpotensi terkait dengan meningkatnya kasus kanker kolorektal pada kelompok usia di bawah 50 tahun. Bahan kimia ini selama ini digunakan untuk membasmi tanaman berkayu dan semak, namun tetap mempertahankan rumput.
Peneliti menemukan 'sidik jari' DNA tertentu pada kanker usus pasien muda. Pola tersebut mengindikasikan paparan lingkungan tertentu sepanjang hidup, termasuk merokok, pola makan buruk, obesitas, tingkat pendidikan yang berkaitan dengan nutrisi, hingga paparan picloram.
Tim peneliti awalnya mengira temuan tersebut merupakan kesalahan. Namun setelah ditelusuri lebih lanjut, tidak ditemukan penjelasan lain yang lebih kuat.
"Ketika kami melihat picloram, kami berpikir ini pasti kesalahan," kata Jose Seoane, ahli biologi komputasi sekaligus penulis senior studi tersebut, dikutip dari Business Insider, Rabu (22/4/2026).
Analisis lanjutan bahkan menunjukkan wilayah dengan penggunaan picloram tinggi juga memiliki tingkat kanker usus usia muda yang lebih besar.
Meski begitu, penelitian ini masih bersifat observasional, penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa picloram menyebabkan kanker. Penelitian lanjutan diperlukan dengan mengumpulkan sampel tumor dari pasien muda yang tinggal di wilayah dengan penggunaan picloram tinggi.
Peneliti menilai faktor tempat tinggal dan jenis pekerjaan yang berkaitan dengan paparan pestisida bisa berperan terhadap peningkatan risiko.
Picloram sendiri bukan bahan baru. Herbisida ini dikembangkan sejak 1960-an dan pernah digunakan dalam campuran bahan kimia untuk membuka hutan pada masa Perang Vietnam. Zat tersebut bekerja dengan mengganggu hormon tanaman dan diketahui dapat bertahan lama di dalam tanah.
Para ilmuwan menegaskan temuan ini baru petunjuk awal. Sejumlah faktor lain juga tengah diselidiki sebagai pemicu kanker usus pada usia muda, termasuk perubahan gaya hidup modern hingga infeksi bakteri tertentu pada saluran pencernaan.
Lonjakan kasus kanker usus usia muda bahkan mendorong otoritas kesehatan di Amerika Serikat menurunkan rekomendasi skrining kolonoskopi dari usia 50 tahun menjadi 45 tahun. Hal ini menunjukkan kekhawatiran terhadap tren peningkatan yang belum sepenuhnya dipahami.
April lalu, peneliti menemukan hubungan potensial lain antara kanker usus usia muda dengan infeksi bakteri colibactin pada awal kehidupan. Ada kemungkinan probiotik yang dirancang khusus dapat membantu mengatasi ancaman tersebut di masa depan.
"Semua kemungkinan masih terbuka saat ini," kata epidemiolog kanker Rebecca Siegel dari American Cancer Society.
Siegel menekankan bahwa temuan tersebut masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian lanjutan. Ia menyebut studi ini sebagai langkah penting untuk mengeksplorasi paparan baru yang mungkin berkontribusi pada peningkatan kasus.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]