HP Paling Susah Diperbaiki Jika Rusak, Merek Terkenal Biaya Termahal

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
15 April 2026 12:20
Suasana pekerja jasa servis telepon seluler di Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Tmur, Kamis (28/5/2020). CNBC Indonesia/Tri Susilo
Wabah virus korona membuat masyarakat beraktivitas tidak seperti biasanya, seperti para penjual jasa servis telepon Pusat Grosir Cililitan (PGC) yang sampai turun ke jalan.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan para penjual jasa servis telepon genggam di PGC menawarkan jasanya sampai ke tepi jalan karena larangan membuka gerai di mal tersebut.

Para penjual jasa layanan yang dapat ditunggu, tidak hanya itu, mereka juga menyediakan jaminan untuk semua merek telepon keamanan.   

Para pemilik kios servis telepon genggam di Mall Pusat Grosir Cililitan (PGC) terpaksa menawarkan jasanya di pinggir jalan. Mereka harus tetap bayar biaya sewa kios 50 persen. Sementara pamasukan tidak ada.  

Indra memiliki 3 kios tempat servis HP di Mall PGC, dan telah bertahun-tahun menjalankan aktifitas menawarkan jasa tersebut. Dengan kondisi Pandemik Covid-19, selain berdiam diri dipinggir jalan menunggu pelanggan, ia juga menggunakan cara promosi dan pemberitahuan lewat media sosial dan aplikasi percakapan WA.
Foto: Jasa Service HP Turun ke Jalanakibat Pusat Grosir Cililitan (PGC) Tutup (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - HP lawas seperti Nokia atau Ericsson dikenal awet dan tahan banting untuk digunakan bertahun-tahun. Namun, HP modern saat ini, siklus pakainya hanya 2-3 tahun saha, seperti iPhone atau Samsung Galaxy.

Salah satu penyebabnya adalah memperbaiki smartphone yang rusak sangat sulit karena desainnya yang terintegrasi. Jika bisa diperbaiki pun, biaya reparasi atau harga komponennya sangat mahal bahkan hingga mendekati harga beli baru.

Meskipun smartphone makin lama makin awet karena memori dan storage yang makin lega, aplikasi juga membutuhkan daya pemrosesan yang lebih besar. Belum lagi layar yang makin lebar dan rawan rusak. Hasilnya, kerusakan HP seperti baterai yang "bocor" atau LCD kerap terjadi.

Di sisi lain, perusahaan teknologi membuat aturan yang menyulitkan pengguna untuk "mempereteli" HP untuk diperbaiki. Misalnya, garansi yang hilang jika HP diperbaiki di tempat selain toko resmi.

Kecenderungan produsen HP membuat produk yang sulit diperbaiki ini mendorong pemerintah Eropa membuat aturan soal "right to repair" atau hak konsumen untuk memperbaiki produk miliknya.

Salah satunya adalah kewajiban bagi perusahaan untuk memberikan informasi dan spesifikasi teknis yang detail dalam "European Union's European Product Registry for Energy Labelling."

US PIRG Education Fund memanfaatkan informasi dari Eropa untuk menyusun peringkat merek HP berdasarkan mudah atau tidaknya diperbaiki saat rusak dalam laporan bertajuk Failing the Fix.

Skor "repabilitas" HP dihimpun berdasarkan beberapa enam kategori. Kategori pertama adalah langkah yang harus dilalui untuk mengakses komponen yang ingin diperbaiki seperti baterai.

Kemudian, ada atau tidaknya standar atau perkakas khusus untuk perbaikan HP. Kategori selanjutnya adalah ketersediaan komponen dan toko reparasi independen. Dua kategori terakhir adalah masa dukungan software dari produsen HP dan akses ke dokumen reparasi produk tersebut.

Berikut adalah peringkat merek HP berdasarkan mudah atau susahnya reparasi jika rusak:

Motorola: B+
Google: C-
Samsung: D
Apple: D-

Penulis laporan Failing the Fix menyatakan kategori yang membuat HP produksi Apple, yaitu iPhone, menjadi produk elektronik yang memiliki skor paling buruk adalah software.

Apple menggunakan software dan aturan "pasangan (pairing) komponen" untuk mempersulit pihak lain memperbaiki perangkat keras buatan mereka.

Contoh restriksi yang diterapkan Apple adalah untuk penggantian komponen terkait Face ID dan penggunaan fitur Activation Lock yang membuat komponen individual di iPhone tak bisa berfungsi jika dibongkar pasang.

Untuk software, cara yang digunakan oleh produsen elektronik adalah membatasi update dukungan keamanan. Tanpa update dukungan keamanan, hardware yang bisa berfungsi dengan baik menjadi tak bisa digunakan karena software di dalamnya rentan "dibobol".

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article HP China Bakal Berubah Drastis, iPhone Makin Tertinggal


Most Popular
Features