08:47
Video: Produksi Bijih Nikel 2026 Dipangkas, Penambang Ungkap Efeknya
Jakarta, CNBC Indonesia- Kementerian ESDM disebut akan menargetkan produksi bijih nikel RI sebesar 209 juta ton pada tahun 2026 atau jauh turun dibanding 2025 yang sebesar 379 juta ton sebagai langkah untuk menstabilkan harga bijih nikel dunia sekaligus menyesuaikan dengan kapasitas smelter di dalam negeri.
Menanggapi kebijakan baru kuota produksi bijih nikel dinilai Direktur PT Central Omega Resources Tbk (DKFT), Andi Jaya menilai tujuannya baik untuk menjaga stabilitas harga nikel mengingat RI adalah produsen utama nikel dunia. Namun Andi Jaya menyebutkan kebijakan ini hendaknya dilaksanakan dengan bijaksana dan memperhatikan kebutuhan dalam negeri karena bisa membuat smelter lokal kekurangan bahan baku.
Selain itu Pemangkasan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) 2026 diharapkan juga memperhatikan kondisi IUP atau izin usaha pertambangan karena akan berdampak pada kelangsungan dan pemenuhan target bisnis penambang. Saat target produksi pemilik IUP tidak sesuai dengan rencana perusahaan maka akan merugikan perusahaan hingga mengganggu kelangsungan bisnis yang berimbas ke PHK.
Seperti apa tanggapan penambang terhadap pemangkasan RKAB nikel 2026? Shafinaz Nachair dengan Direktur PT Central Omega Resources Tbk (DKFT), Andi Jaya dalam Closing Bell, CNBC Indonesia (Senin, 13/04/2026)
Addsource on Google