Perang Saudara Pecah, Persamaan Manusia dan Simpanse Tampak Jelas
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Kawanan simpanse terbesar di dunia tiba-tiba berseteru dan pecah menjadi dua kelompok. Perang saudara pun pecah. Simpanse dari dua kelompok tersebut saling bunuh.
Fenomena ini dilaporkan oleh tim peneliti dalam artikel yang diterbitkan di jurnal ilmiah Science. Penulis artikel menyatakan fenomena itu adalah kejadian langka yaitu perpecahan dalam kawanan simpanse yang diperkirakan hanya terjadi sekali dalam 500 tahun.Â
Peneliti menggunakan data yang dihimpun selama 3 dekade dari Taman Nasional Kibale, Uganda, mulai dari 19950-an. Kibale adalah habitat dari komunitas simpanse yang terdiri dari sekitar 200 individu.
Komunitas simpanse tersebut memiliki dua kelompok utama, yang disebut sebagai klaster Pusat dan Barat. Selama puluhan tahun, mereka hidup sebagai satu komunitas dan berbagi wilayah. Individu dari satu klaster kerap berpasangan dengan individu dari klaster lainnya. Pasangan tersebut kemudian pindah dari satu klaster ke klaster lainnya.
Namun, situasi tersebut berubah pada 2015.
Pemimpin tim peneliti Aaron Sandel, primatologis dari University of Texas di Austin menyaksikan sendiri perubahan di komunitas tersebut saat mengamati simpanse Ngogo. Ia melihat kawanan dari klaster Barat mendekati kawanan dari klaster Pusat. Biasanya, kedua kawanan akan "beramah tamah" kemudian kembali berpisah. Namun kali ini, simpanse dari klastar Barat mendadak senyap saat kawanan dari klaster Sentral kawin. Kawanan Barat kemudian kabur dan dikejar oleh kawanan Pusat.
"Hal seperti ini tidak pernah diamati sebelumnya," kata Sandel.
Kedua kawanan kemudian mulai berpisah, secara geografi dan sosial. Pada 2017, kedua kawanan menempati wilayah yang terpisah dan terlihat berpatroli menjaga wilayah mereka dari kawanan lain. Setahun kemudian, "perang" dimulai.
Pada periode antara 2018 hingga 2024, peneliti menyaksikan kawanan dari Barat membunuh 7 simpanse jantan dan 17 anak simpanse dari kawanan Pusat. Selain itu, 14 simpanse dewasa dari kawanan Pusat hilang. Simpanse dewasa yang hilang tidak pernah menunjukkan gejala sakit dan tubuhnya tidak pernah ditemukan.
Peneliti memperkirakan perpecahan kedua kawanan terjadi karena "runtuhnya" hubungan sosial. Pemicunya adalah ukuran grup yang terlalu besar, kompetisi berebut makanan dan pasangan, pergantian "alpha", dan wabah yang membutuh simpanse dewasa yang menjembatani kedua kawanan.
Perpecahan yang sama terjadi di Taman Nasional Gombe di Tanzani pada 1970-an. Jade Goodall, ahli primata ternama, mengamati perpecahan 7 simpanse ke kelompok baru. Simpanse yang pernah satu kawanan kemudian dibunuh.
Goodall mengamati pemicu yang sama yaitu hubungan sosial yang mulai terpisah, kompetisi reproduksi yang makin ketat, dan pergantian "alpha" serta matinya simpanse jantan "penghubung."
"[Ngogo] adalah pertama kalinya bisa dipastikan perang saudara pecah," kata Sandel.
Penelitian soal simpanse menunjukkan hal yang membuat manusia berkonflik ternyata juga membuat primata pecah.
Science American menyatakan selama ini perang disebut terjadi karena perubahan budaya termasuk terkait etnis, bahasa, dan agama. Oleh karena itu, upaya menciptakan perdamaian fokus untuk menjembatani perbedaan budaya tersebut.
Namun, fenomena pada simpanse menawarkan hipotesis yang berbeda yaitu pentingnya memastikan interaksi sosial terus terjadi secara inklusif dan ramah.
Sandel menyatakan menjaga persahabatan yang menghubungkan individu dalam kelompok sangat penting.
"Apa yang harus kita lakukan adalah mempertahankan hubungan interpersonal. Dalam kehidupan sehari-hari dengan orang lain yang berinteraksi dengan kita. Jika kita bisa berkumpul meskipun berhadapan dengan konflik, saya rasa ini adalah resep mempertahankan perdamaian," kata Sandel.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]