Kiamat Makin Dekat, Bumi Sudah Tidak Kuat Tampung Manusia

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
08 April 2026 14:50
Orang-orang mengunjungi Gerbang India di New Delhi. - Setiap pagi dan sore dan selama beberapa jam di antara puluhan juta orang India duduk menganggur di jalan raya yang macet dan bergelantungan di sisi kereta penumpang yang padat di tempat yang menjadi negara terpadat di dunia. (Sajjad HUSSAIN / AFP)
Foto: Orang-orang mengunjungi Gerbang India di New Delhi. - Setiap pagi dan sore dan selama beberapa jam di antara puluhan juta orang India duduk menganggur di jalan raya yang macet dan bergelantungan di sisi kereta penumpang yang padat di tempat yang menjadi negara terpadat di dunia. (AFP/SAJJAD HUSSAIN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Populasi manusia disebut sudah melampaui batas kemampuan Bumi untuk menopang kehidupan secara berkelanjutan. Peringatan itu datang dari studi terbaru yang menunjukkan planet ini tidak lagi mampu mengikuti tingkat konsumsi manusia saat ini.

Penelitian yang dipimpin Corey Bradshaw dari Flinders University menganalisis lebih dari 200 tahun data populasi global. Hasilnya, manusia dinilai hidup jauh di atas daya dukung Bumi atau "carrying capacity".

Dalam ekologi, daya dukung adalah jumlah maksimum individu yang bisa bertahan dalam jangka panjang berdasarkan ketersediaan sumber daya. Namun manusia dinilai terus mendorong batas tersebut, terutama lewat penggunaan teknologi dan bahan bakar fosil.

Ketergantungan pada energi fosil memungkinkan lonjakan populasi pesat sejak abad ke-20. Saat ini, tercatat populasi dunia telah mencapai sekitar 8,3 miliar orang. Masalahnya, angka tersebut jauh di atas kapasitas optimal.

Studi ini memperkirakan jumlah manusia yang masih berkelanjutan dengan standar hidup layak hanya sekitar 2,5 miliar orang.

Sementara itu, populasi global diproyeksikan terus naik hingga mencapai puncak 11,7-12,4 miliar pada akhir 2060-an atau 2070-an. Angka 12 miliar disebut sebagai batas maksimum absolut yang bisa ditopang planet ini. Artinya, bahkan sebelum mencapai puncak populasi, manusia sudah lebih dulu melampaui batas aman.

Peneliti menemukan sejak 1960-an pertumbuhan penduduk mulai melambat. Namun jumlah manusia tetap meningkat dan tekanan terhadap sumber daya terus membesar.

Kondisi ini disebut sebagai fase demografi negatif, di mana tambahan populasi tidak lagi menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat, tetapi justru meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.

Dampaknya mulai terlihat. PBB sebelumnya menyatakan dunia mengalami kebangkrutan air. Populasi satwa liar menurun karena kalah bersaing dengan manusia. Sementara ketergantungan pada bahan bakar fosil mempercepat perubahan iklim yang merusak ekosistem.

Penelitian juga menemukan kenaikan suhu global, jejak ekologis, dan total emisi lebih banyak dipicu pertumbuhan populasi dibanding konsumsi per kapita.

"Bumi tidak dapat mengikuti cara kita menggunakan sumber daya. Kita mendorong planet ini lebih keras daripada yang mampu ditanggungnya," kata Bradshaw, dikutip dari Science Alert, Rabu (8/4/2025).

Meski demikian, para peneliti menilai situasi belum sepenuhnya terlambat. Perubahan besar dalam penggunaan energi, pangan, lahan, dan air dinilai masih dapat mencegah krisis yang lebih parah.

"Populasi lebih kecil dengan konsumsi lebih rendah menghasilkan hasil lebih baik bagi manusia dan planet. Jendela untuk bertindak semakin sempit, tetapi perubahan masih mungkin jika negara-negara bekerja sama," ujar Bradshaw.

Meski demikian, model global seperti ini memiliki keterbatasan karena terlalu banyak variabel yang sulit diprediksi. Selain itu, konsep daya dukung juga memiliki implikasi etika karena tidak semua manusia memiliki akses dan tingkat konsumsi yang sama.

Para penulis menyimpulkan bahwa aktivitas manusia telah menunda mekanisme koreksi alami daya dukung Bumi, tanpa menggantinya dengan sistem yang lebih manusiawi dan ramah lingkungan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Tanda Kiamat Makin Nyata, Sudah Terlihat Jelas dari Sikat Gigi


Most Popular
Features