AI Tak Cuma Gantikan Tugas Rutin Manusia, Riset Ini Ungkap Hal Besar!
Jakarta, CNBC Indonesia - ADB Institute (ADBI) menemukan bukti baru bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dengan optimal dapat meningkatkan pekerjaan manusia dan produktivitas. Bahkan bisa berdampak terhadap peningkatan lapangan kerja.
ADBI menulis dalam laporan kuartalannya, bahwa saat ini pertanyaan dan kekhawatiran soal AI bergeser dari apakah pekerjaan akan hilang menjadi bagaimana pekerjaan akan berubah, keterampilan apa yang akan dibutuhkan, dan siapa yang akan mendapat manfaat.
Selain itu, dampak pada pasar tenaga kerja lebih kompleks daripada sekadar otomatisasi dan penggantian pekerjaan, dengan berbagai implikasi bagi masa depan pekerjaan.
"Penelitian menunjukkan bahwa meskipun AI dapat menggantikan tugas-tugas rutin, terutama dalam peran tingkat pemula, AI juga memiliki potensi kuat untuk meningkatkan pekerjaan manusia dan meningkatkan produktivitas," tulis ADBI.
"Bukti menunjukkan peningkatan lapangan kerja daripada penggantian langsung dalam jangka pendek, tetapi transisi jangka panjang akan mengganggu tanpa kebijakan proaktif," sambungnya.
ADBI mengatakan bahwa perusahaan yang menerapkan AI secara strategis, seperti dalam keamanan siber atau analisis data, seringkali melihat peningkatan output dan lapangan kerja.
"Yang penting, AI generatif dapat bertindak sebagai penyeimbang, secara signifikan meningkatkan kinerja pekerja dengan keterampilan rendah dan kurang berpengalaman," tulis ADBI.
Namun, kesiapan negara-negara di Asia dalam adaptasi dengan kecerdasan buatan (AI) tidak merata karena perbedaan tingkat infrastruktur digital dan pendidikan.
ADBI melihat ada kesenjangan antara negara-negara dengan infrastruktur digital baik dengan lainnya dalam hal kesiapan memanfaatkan AI untuk kemajuan bisnis.
"ADBI mengungkapkan di seluruh Asia, dinamika ini berlangsung tidak merata. Ekonomi dengan infrastruktur digital yang kuat dan pencapaian pendidikan yang tinggi, seperti Korea Selatan dan Singapura, lebih siap untuk memanfaatkan AI," tulis ADBI.
Sementara yang lain menghadapi tantangan yang berasal dari kesenjangan digital, pasar tenaga kerja informal yang besar, dan ketidaksesuaian keterampilan, terutama di sektor-sektor seperti manufaktur dan alih daya proses bisnis yang rentan terhadap otomatisasi.
ADBI menyarankan adanya program pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan, tata kelola AI adaptif, inklusi digital, dan jaring pengaman sosial yang kuat sangat penting.
"Pada akhirnya, masa depan pekerjaan di Asia akan bergantung pada seberapa efektif pemerintah mendorong kolaborasi manusia-AI, memastikan bahwa kemajuan teknologi diterjemahkan menjadi pertumbuhan inklusif dan tangguh daripada memperlebar kesenjangan," tutup ADBI.
(ras/mij) Add
source on Google