Iran dan China 'Bersatu' Serang Negara Eropa, Dampaknya Parah
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang yang terjadi di Timur Tengah masih terus berlanjut. Perang ini dimulai dari serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, serta beberapa pejabat tinggi lainnya. Tak tinggal diam, Iran membalas dengan menyerbu pangkalan-pangkalan militer AS yang ada di Timur Tengah.
Iran juga menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan global signifikan, terutama untuk minyak. Hal ini menyebabkan naiknya harga minyak yang akan merembet ke hal-hal lain.
Di tengah perang fisik yang terjadi di Timur Tengah, Uni Eropa (UE) tiba-tiba mengumumkan negara-negara di kawasannya mendapat serangan siber dari China dan Iran.
Uni Eropa (UE) resmi menjatuhkan sanksi terhadap tiga perusahaan yang berbasis di China dan Iran terkait serangan siber terhadap negara-negara anggotanya.
Dalam pernyataan resminya, UE menetapkan dua perusahaan asal China, yakni Integrity Technology Group dan Anxun Information Technology, serta perusahaan Iran Emennet Pasargad ke dalam daftar hitam.
UE mengungkapkan, Integrity Technology Group diduga berperan dalam peretasan lebih dari 65.000 perangkat yang tersebar di enam negara anggota, demikian dikutip dari Reuters, Selasa (17/3/2026).
Sementara itu, Anxun Information Technology disebut menyediakan jasa peretasan yang menargetkan infrastruktur vital. Bahkan, dua pendiri perusahaan tersebut turut dikenai sanksi secara individu.
Tak hanya itu, perusahaan asal Iran, Emennet Pasargad, dituding terlibat dalam penyebaran disinformasi dengan cara membobol papan reklame saat gelaran Olimpiade Paris 2024.
Sebagai bentuk hukuman, UE menjatuhkan sanksi berupa pembekuan aset serta larangan perjalanan bagi individu yang terlibat.
Selain itu, seluruh warga dan perusahaan di wilayah Uni Eropa juga dilarang memberikan dukungan finansial kepada entitas yang masuk daftar sanksi tersebut.
(fab/fab) Add
source on Google