Kota Mamuju Kena Paparan Radiasi Tertinggi, Penyebabnya Tak Terduga

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Minggu, 15/03/2026 20:00 WIB
Foto: BMKG

Jakarta, CNBC Indonesia - Wilayah Mamuju di Sulawesi Barat tercatat menerima paparan radiasi alam jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia. Bahkan, tingkat radiasi di daerah ini hampir sembilan kali lipat dari paparan radiasi alami yang biasanya diterima manusia secara global.

Temuan tersebut tercantum dalam UNSCEAR 2024 Report - Annex B yang dirilis Komite Ilmiah PBB untuk Efek Radiasi Atom (United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation/UNSCEAR). Laporan itu mengevaluasi paparan radiasi pengion terhadap masyarakat di berbagai negara.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir BRIN sekaligus perwakilan Indonesia untuk UNSCEAR, Nur Rahmah Hidayati, mengatakan Mamuju dikategorikan sebagai High Natural Background Radiation Areas (HNBRA) atau wilayah dengan radiasi latar belakang alami tinggi.


Estimasi dosis efektif tahunan dari sumber radiasi alam di wilayah ini mencapai sekitar 27 milisievert (mSv) per tahun. Sebagai perbandingan, rata-rata paparan radiasi alam secara global hanya sekitar 3 mSv per tahun.

"Jika dibandingkan, paparan yang diterima penduduk Mamuju hampir sembilan kali lebih besar dari rata-rata dunia," kata Nur Rahmah dikutip dari keterangan resmi BRIN, Minggu (15/3/2026).

Ia menjelaskan, tingginya paparan radiasi di Mamuju terutama disebabkan oleh kandungan uranium dan thorium yang sangat tinggi di dalam tanah. Konsentrasi uranium-238 dan thorium-232 di beberapa lokasi bahkan mencapai ratusan hingga lebih dari 1.000 Bq/kg, jauh di atas rata-rata global yang masing-masing sekitar 33 Bq/kg dan 45 Bq/kg.

Selain itu, kadar gas radon di udara luar Mamuju juga tergolong tinggi, berkisar antara 22 hingga 760 Bq/m³ dengan rata-rata sekitar 290 Bq/m³. Gas radon sendiri merupakan salah satu penyumbang utama paparan radiasi alami.

Meski demikian, kondisi bangunan dan gaya hidup masyarakat setempat membantu mengurangi penumpukan radon di dalam rumah. Ventilasi alami serta struktur rumah tradisional membuat konsentrasi radon di dalam ruangan tidak meningkat secara drastis dibandingkan di lingkungan luar.

"Keberadaan wilayah dengan radiasi alam tinggi seperti Mamuju dinilai penting secara ilmiah karena dapat menjadi lokasi penelitian untuk memahami dampak paparan radiasi rendah secara jangka panjang terhadap kesehatan manusia," ujar ia.

Secara global, UNSCEAR juga menegaskan sumber alami tetap menjadi kontributor terbesar paparan radiasi bagi masyarakat dunia. Sebagian besar berasal dari radon yang terhirup melalui pernapasan serta radionuklida alami di tanah dan material bangunan.

Kepala Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir BRIN, Heru Prasetio, mengatakan variasi tingkat radiasi alam di berbagai wilayah dunia merupakan fenomena geologi yang wajar.

"Temuan ini memperlihatkan bahwa Indonesia melalui BRIN berkontribusi dalam pemutakhiran basis data global mengenai paparan radiasi alam lewat studi di Mamuju," kata Heru.

Ia menambahkan, data penelitian dari Mamuju menjadi bagian penting dalam kajian internasional mengenai variasi radiasi latar belakang di berbagai belahan dunia sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam riset global di bidang keselamatan radiasi.


(wur/wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Warga RI Doyan Belanja Online di Ramadan,Fintech Jamin Keamanan