China Ikut Indonesia, Satu Dunia Bersatu Tak Mau Digantikan Total
Jakarta, CNBC Indonesia - Gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti halnya pedang bermata dua. Di satu sisi, inovasi AI membawa banyak kemudahan bagi aktivitas manusia, bahkan digadang-gadang akan menjadi alat efektif untuk pertumbuhan ekonomi.
Namun, di sisi lain, AI juga membawa banyak risiko. Misalnya risiko pengangguran dan PHK karena banyak tugas yang sudah bisa dijalankan oleh AI. Belum lagi maraknya disinformasi beredar karena dengan mudah dibuat AI. Selain itu, dampak lingkungan dari pengembangan AI juga kian menjadi sorotan.
Pemerintah Indonesia sudah mencanangkan 'Peta Jalan AI' untuk mereduksi beragam risiko implementasi AI, sembari mempercepat daya saing Indonesia dalam kompetisi AI global.
Aturan terkait penggunaan AI ini juga menjadi tren dunia. Uni Eropa (UE) sudah memiliki 'EU AI Act' yang bakal berlaku penuh pada akhir 2026 ini. Aturan itu digadang-gadang sebagai regulasi komprehensif pertama di dunia untuk mendeteksi risiko AI, menagih tanggung jawab penyedia AI dalam mitigasi risiko, serta melakukan pembatasan yang sesuai etika.
Bukan cuma Uni Eropa, beberapa negara lain seperti Inggris dan Korea Selatan juga secara aktif mempersiapkan regulasi terkait AI.
Beberapa saat lalu, China juga berupaya untuk melindungi masyarakat saat menggunakan AI. Caranya dengan membuat rancangan peraturan baru untuk memperkuat keselamatan dan etika saat peluncuran teknologi tersebut.
Aturan itu dirancang untuk produk dan layanan AI yang berorientasi pada konsumen, yakni layanan dengan sifat kepribadian seperti manusia dan melibatkan interaksi emosional penggunanya, dikutip dari Reuters.
Sasaran aturan adalah produk dan layanan dengan pola pikir, gaya komunikasi, interaksi secara emosional menggunakan tools seperti teks, gambar, audio, hingga video.
Aturan tersebut akan menggunakan pendekatan kewajiban perusahaan AI dalam menyediakan produknya kepada masyarakat. Salah satunya menyediakan peringatan pada penggunaan yang berlebihan.
Penyedia layanan juga wajib membangun berbagai sistem terkait hal tersebut. Mulai dari tinjauan algoritma, keamanan data, dan perlindungan informasi pribadi.
Masalah kecanduan juga jadi prioritas aturan. Penyedia harus bisa mengidentifikasi kondisi dan menilai emosi serta tingkat ketergantungan pengguna pada layanan.
Termasuk menyediakan langkah intervensi saat pengguna memperlihatkan tanda kecanduan pada layanan.
Langkah yang dilakukan menetapkan batasan konten dan perilaku. Ini membuat layanan tidak bisa memproduksi konten yang membahayakan keamanan nasional, menyebarkan rumor atau mempromosikan kekerasan atau pornografi.
Peta Jalan AI
Seperti dijelaskan sebelumnya, Indonesia telah lama menyusun Peta Jalan AI dan etika AI. Draf dikatakan akan ditandatangan presiden Prabowo Subianto di 2026.
"Kami mungkin sampaikan di sini karena ini yang ditunggu-tunggu juga oleh para pelaku industri bahwa pemerintah sudah selesai, sudah 90% selesai Untuk peta jalan AI dan juga AI ethics," jelas Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid, dalam acara Deklarasi Arah Indonesia Digital: Terhubung, Tumbuh, Terjaga, di Jakarta, Rabu (10/12/2025).
Draf tengah menunggu antrean. Meutya menjelaskan Menteri Sekretaris Negara Prasteyo Hadi memastikan Peta Jalan AI masuk dalam prioritas untuk ditandatangan Prabowo sesegera mungkin.
Meutya mengatakan pihaknya tidak akan mengatur perkembangan AI di sektor masing-masing. Jadi kementerian dan lembaga bisa membuat aturan AI sendiri saat Perpres diluncurkan.
"Jadi kami hanya membuat payung besarnya dan selebihnya termasuk di perdagangan di dalam negeri. Silahkan untuk membuat pegangan atau aturan mengenai AI Masing-masing. Dengan pemahaman kami bahwa tentu yang paling tahu kebutuhan aturan terkait Artificial Intelligence, di sektor masing-masing adalah para pemimpin lembaga sektor terkait," kata Meutya.
Belum ada informasi soal isi detail aturan dan peta jalan AI tersebut.
Ditemukan Oktober lalu, Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria mengatakan aturan terkait keseimbangan inovasi dan proteksi terkait teknologi AI. Yakni akan menyeimbangkan inovasi dan proteksi.
Dalam Peta Jalan AI, Nezar mengatakan akan menyasar beberapa hal termasuk program strategis nasional. Seperti sektor apa saja yang akan berkontribusi pada teknologi tersebut.
"Kira-kira AI bisa berkontribusi di mana saja gitu ya, sektor kesehatan, sektor pendidikan, sektor keuangan ya, layanan keuangan, transportasi, dan sejumlah sektor lain," ungkap Nezar.
(fab/fab) Add
source on Google