Pemasok Senjata Baru AS Bikin Geger, Mendadak Ditinggal Petinggi
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memicu konflik lain, yakni terkait mitra kontraktor AS untuk tool AI yang digunakan di medan perang. Anthropic yang merupakan pemasok tool AI Kementerian Pertahanan/Perang AS (DoW) menolak tool AI-nya digunakan untuk menciptakan senjata otonom atau memata-matai warga AS.
Sikap itu membuat pemerintahan Donald Trump murka dan langsung melarang lembaga-lembaga federal menggunakan tool AI dari Anthropic. Kendati demikian, menurut laporan WSJ, Claude AI dari Anthropic masih digunakan dalam perang melawan Iran, yakni untuk penelitian intelijen dan menargetkan musuh.
Larangan Trump untuk penggunaan Anthropic langsung membuka peluang bagi layanan pesaing, OpenAI. Raksasa pencipta ChatGPT itu mengumumkan baru meneken kontrak dengan DoW untuk menjadi pemasok tool AI baru bagi kepentingan militer.
Keputusan OpenAI langsung memicu kontroversi. Pengguna ramai-ramai menghapus aplikasi ChatGPT dari HP, dan dilaporkan beralih ke Claude AI.
Bukan cuma kehilangan basis pengguna, OpenAI juga kehilangan sosok pemimpin. Caitlin Kalinowski yang memimpin pengembangan hardware di OpenAI mengumumkan pengunduran dirinya pada Sabtu (7/3) waktu setempat.
Ia mengatakan alasan pengunduran dirinya karena kekhawatiran terkait kesepakatan OpenAI dengan DoW, dikutip dari Reuters, Senin (9/3/2026).
Dalam unggahan di media sosial X, Kalinowski menuliskan OpenAI terburu-buru dalam menyetujui penggunaan model AI-nya untuk jaringan cloud terklasifikasi milik Pentagon.
"AI memiliki peran penting dalam keamanan nasional. Namun, pengintaian warga AS tanpa pengawasan judisial dan otonomi yang mematikan tanpa otorisasi manusia adalah batasan-batasan yang pantas mendapatkan pertimbangan lebih lanjut," tulis Kalinowski.
Reuters tidak bisa segera meminta komentar dari Kalinowski. Namun, ia menuliskan di X bahwa dirinya sangat menghormati CEO OpenAI Sam Altman, beserta tim OpenAI secara keseluruhan.
Hanya saja, ia menyayangkan OpenAI mengumumkan kesepakatan dengan Pentagon tanpa pembatasan yang jelas.
"Ini adalah masalah tata kelola. Hal-hal ini terlalu penting untuk kesepakatan atau pengumuman yang terburu-buru," ujarnya.
OpenAI mengatakan sehari setelah kesepakatan itu tercapai bahwa kesepakatan tersebut mencakup pengamanan tambahan untuk melindungi kasus penggunaannya.
Perusahaan pada akhir pekan lalu menegaskan kembali bahwa "garis merah" mereka melarang penggunaan teknologi dalam pengawasan domestik atau senjata otonom.
"Kami menyadari bahwa orang-orang memiliki pandangan yang kuat tentang masalah ini dan kami akan terus terlibat dalam diskusi dengan karyawan, pemerintah, masyarakat sipil, dan komunitas di seluruh dunia," kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan kepada Reuters.
Kalinowski bergabung dengan OpenAI pada 2024 setelah memimpin pengembangan hardware augmented reality di Meta Platforms.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]