AS Siaga Penuh Hadapi Serangan Iran, Ahli Kasih Peringatan Bahaya

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
05 March 2026 19:20
Dua pesawat Angkatan Laut AS terbang di atas dek penerbangan kapal induk kelas Nimitz Angkatan Laut AS USS Abraham Lincoln untuk mendukung serangan Operasi Epic Fury terhadap Iran dari lokasi yang dirahasiakan pada 3 Maret 2026. (U.S. Navy/Handout via REUTERS)
Foto: Dua pesawat Angkatan Laut AS terbang di atas dek penerbangan kapal induk kelas Nimitz Angkatan Laut AS USS Abraham Lincoln untuk mendukung serangan Operasi Epic Fury terhadap Iran dari lokasi yang dirahasiakan pada 3 Maret 2026. (via REUTERS/US Navy)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) diingatkan untuk bersiap menghadapi serangan siber dari Iran. Sasaran serangan itu mulai dari bisnis hingga infrastruktur setempat.

Peringatan itu diungkapkan usai serangan AS dan Israel ke Iran akhir pekan lain. Iran telah membalas serangan yang menghantam pangkalan AS, kedutaan besar, serta beberapa wilayah di Tel Aviv, Doha, hingga Dubai.

Tak hanya itu, Iran juga akan melakukan serangan siber yang diperkirakan akan jauh lebih berbahaya. Negara itu tengah menunggu momen untuk bisa meluncurkan serangan.

"Dari segi waktu, ini merupakan kesempatan terakhir. Dalam hal ini bahayanya jauh lebih besar," ucap pendiri CEO startup keamanan siber Tenzai, Pavel Gurvich, dikutip dari CNBC Internasional, Kamis (5/3/2026).

Sementara itu, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem buka suara soal keamanan negaranya minggu ini. Dia memastikan Department of Homeland Security (DHS) setempat telah bekerja sama dengan mitra intelijen dan penegak hukum federal untuk memantau dan menggagalkan secara cermat tiap potensi ancaman.

Ancaman serangan siber ini timbul saat Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA) menghadapi berbagai masalah dari penutupan sebagian pemerintah, cuti paksa dan perombakan manajemen.

CISA tercatat telah kehilangan sepertiga karyawan sejak Donald Trump kembali menjabat sebagai presiden. Lembaga itu juga harus menghadapi banyak pegawainya yang meninggalkan posisinya.

Salah satunya, direktur sementara lembaga, Madhu Gottumukkala yang dipindahkan ke divisi lain minggu lain. Kepala bagian teknologi informasi Bob Costello mengumumkan telah mengundurkan diri dari layanan federal melalui unggahan di LinkedIn.

Web CISA juga tidak aktif sejak 17 Februari 2026 lalu. Dalam situs tersebut disebut alasannya karena pendanaan federal yang terhenti.

Pada tanggal yang sama DHS mengumumkan CISA akan membatalkan program penilaian keamanan siber, pelatihan dan kegiatan lain.

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article China Terancam Lumpuh, Serangan Amerika Menggila


Most Popular
Features