Perang Iran Meluas, Raksasa Amerika Kompak Tutup Kantor
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik bersenjata di Timur Tengah kian meluas setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu balasan di kawasan tersebut.
Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pertahanan dan energi, tetapi juga langsung menghantam operasional raksasa teknologi asal Amerika Serikat.
Sejumlah perusahaan teknologi global seperti Nvidia, Amazon, dan induk Google, Alphabet, kompak mengambil langkah menutup kantor serta memberlakukan kerja jarak jauh bagi karyawan di kawasan Timur Tengah.
CEO Nvidia Jensen Huang dalam memo internal menyatakan kantor Nvidia di Dubai ditutup sementara dan seluruh karyawan diminta bekerja dari rumah.
Tim manajemen krisis perusahaan disebut bekerja 24 jam untuk memastikan keselamatan pegawai, termasuk sekitar 6.000 karyawan yang berbasis di Israel.
Israel sendiri merupakan basis riset dan pengembangan terbesar Nvidia di luar AS, terutama setelah akuisisi Mellanox pada 2019 senilai US$7,13 miliar.
Gangguan transportasi udara menjadi dampak langsung eskalasi konflik. Lebih dari 11.000 penerbangan di Timur Tengah dibatalkan sejak akhir pekan, menurut data Cirium.
Sementara itu, puluhan karyawan Google dilaporkan terdampar di Dubai usai menghadiri konferensi penjualan unit cloud perusahaan. Dubai selama ini menjadi hub utama operasional cloud dan penjualan Google untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.
Perusahaan menyatakan situasi berkembang cepat dan fokus utama adalah keselamatan serta kesejahteraan karyawan di kawasan tersebut, demikian dikutip dari CNBC International, Rabu (4/3/2026).
Pusat Data Amazon Diserang Drone
Sementara itu, Amazon menghadapi dampak lebih serius. Dua pusat data di Uni Emirat Arab dilaporkan terkena serangan drone secara langsung, sementara satu fasilitas di Bahrain mengalami kerusakan akibat serangan di sekitarnya.
Kerusakan struktural, gangguan listrik, serta dampak air membuat fasilitas tersebut belum bisa beroperasi.
Sejumlah layanan Amazon Web Services (AWS), termasuk server virtual dan database, masih mengalami gangguan. AWS bahkan mendorong pelanggan untuk mencadangkan data dan mempertimbangkan migrasi beban kerja ke wilayah lain.
Amazon kini mewajibkan seluruh karyawan korporat di Timur Tengah untuk bekerja dari jarak jauh dan mengikuti arahan pemerintah setempat.
Konflik yang meluas ini menunjukkan bagaimana Timur Tengah telah menjadi simpul penting industri teknologi global. Dubai dan Tel Aviv bukan sekadar kantor cabang, tetapi pusat cloud, riset AI, hingga infrastruktur data berskala internasional.
Dengan situasi keamanan yang dinilai tidak dapat diprediksi, perusahaan-perusahaan teknologi AS kini bersiap menghadapi risiko operasional yang lebih luas, mulai dari gangguan rantai pasok digital hingga potensi relokasi infrastruktur strategis.
(fab/fab) Add
source on Google