Bank-bank AS Keluarkan Peringatan Darurat Serangan Balas Dendam Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang makin panas di Timur Tengah (Timteng). Serangan awal yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu eskalasi, terlebih setelah Pemimpin Tertinggi iran Ayatollah Ali Khamenei tewas sebagai martir.
Iran bersumpah akan membalas perbuatan AS-Israel dan menyerang negara-negara Timteng yang merupakan basis pangkalan militer AS. Infrastruktur penting seperti data center dan fasilitas produksi minyak-gas menjadi sasaran.
Ketakutan atas kondisi di Timteng juga menular ke AS. Industri layanan keuangan di AS menyatakan peringatan darurat atas potensi serangan siber besar-besaran yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Perusahaan-perusahaan perbankan dilaporkan memperketat pengawasan untuk beragam ancaman yang biasanya melonjak selama periode konflik geopolitik, menurut para eksekutif dan analis.
Keamanan siber sudah lama menjadi prioritas industri layanan keuangan yang mengoperasikan infrastruktur kritis di AS, termasuk pembayaran, sistem kliring dan penyelesaian, serta platform perdagangan dan pasar keuangan. Menurut data industri, infrastruktur ini menjadi target utama serangan siber.
"Industri ini tetap waspada dan siap untuk menanggapi ancaman siber setiap saat, dan terutama ketika risiko keamanan siber global meningkat," kata Todd Klessman, direktur pelaksana untuk layanan keuangan siber dan teknologi di kelompok industri SIFMA, dikutip dari Reuters, Rabu (4/3/2026).
SIFMA menjalankan latihan tahunan untuk memastikan perusahaan keuangan dapat beroperasi melalui keadaan darurat siber yang signifikan.
"Kami terus memonitor situasi terkini dan fokus pada ketahanan operasional yang merupakan basis untuk integritas dan stabilitas pasar modal AS," Klessman menuturkan.
Beberapa pemimpin industri perbankan kawakan juga mengaku sangat mengkhawatirkan risiko serangan siber. Mereka menilai hal tersebut akan terjadi.
Intel AS Ungkap Potensi Serangan Siber
Menurut tinjauan intelijen AS, hacktivist yang terafiliasi dengan Iran bisa melancarkan serangan siber level rendah ke jaringan AS. Misalnya dengan mendistribusikan serangan DDoS, di mana oknum membanjiri server dengan trafik internet untuk melemahkan sistem.
Lembaga pemeringkat kredit Morningstar DBRS mengatakan pada Selasa (3/3) bahwa risiko paling signifikan bagi bank-bank global dan manajer aset kemungkinan bersifat tidak langsung, termasuk kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dan guncangan bagi para peminjam. Namin, lembaga itu juga memperingatkan bahwa risiko siber dapat meningkat.
"Iran dapat meningkatkan serangan sibernya terhadap entitas Barat, termasuk bank," kata lembaga pemeringkat kredit tersebut.
Tim penasihat geopolitik bank investasi AS Lazard juga pekan ini menyoroti risiko siber, mencatat bahwa Iran telah menunjukkan kesediaan untuk mengerahkan kemampuan siber terhadap target komersial, termasuk sistem keuangan.
Menurut laporan tahun 2025 oleh Financial Services Information Sharing and Analysis Center (FS-ISAC), sebuah konsorsium industri, sektor jasa keuangan adalah target utama serangan DDoS pada 2024, dengan perang Hamas-Israel dan Rusia-Ukraina memicu lonjakan hacktivism.
Meskipun industri ini belum pernah mengalami gangguan besar akibat serangan yang tidak diinginkan dalam beberapa waktu terakhir, serangan DDOS skala kecil serta serangan ransomware telah mengganggu sebagian pasar.
Serangan ransomware pada 2023 terhadap unit broker-dealer AS dari Industrial and Commercial Bank of China mengganggu penyelesaian beberapa transaksi obligasi pemerintah AS.
(fab/fab) Add
source on Google