HP Harga Rp 1 Jutaan Bakal Lenyap, Krisis Sudah Tiba

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
02 March 2026 09:20
Penjual gawai di ITC Kuningan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Foto: Penjual gawai di ITC Kuningan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak kelangkaan chip secara global karena AI terus terjadi hingga sekarang. Laporan International Data Corporation (IDC) menyamakan fenomena itu dengan tsunami dan tidak akan mereda dalam waktu sementara di pasar smartphone.

"Apa yang kita saksikan bukanlah tekanan sementara, namun guncangan seperti tsunami dari rantai pasokan memori, dengan efek riak menyebar ke semua industri elektronik konsumen," kata pimpinan penelitian perangkat seluler IDC, Fransisco Jeronimo, dikutip dari CNN Internasional, Senin (2/3/2026).

Dalam laporannya, IDC mengatakan harga jual rata-rata smartphone bakal melonjak 14% selama 2026 ke level tertinggi US$523 (Rp 8,7 juta). Sementara itu, produsen disebut tidak lagi bisa membuat ponsel murah dengan harga kurang dari US$100 atau Rp 1,6 juta.

IDC juga memprediksi penjualan smartphone akan mencatatkan rekor lain. Dalam hal ini mengalami penurunan mencapai 12,9% menjadi 1,12 miliar unit atau jumlah terendah lebih dari satu dekade.

Sejak akhir tahun lalu, pasar semikonduktor mengalami krisis bersamaan dengan sektor AI yang kian bertumbuh masif. Pertumbuhan itu diikuti dengan pembangunan pusat data yang juga cepat dan membutuhkan banyak chip memori.

Namun permintaan ini tidak bisa diimbangi oleh para produsen untuk produk elektronik lainnya. Mereka mengalihkan pasokannya untuk industri AI dan hanya tersisa sedikit untuk produk seperti HP, laptop dan konsol game.

Menurut IDC, kekurangan chip memori ini tidak akan membuat pasar kembali normal. Bahkan akan berdampak pada produsen smartphone secara permanen.

Setidaknya dampak lebih besar akan dirasakan oleh produsen kecil yang menggunakan sistem operasi Android milik Google.

Namun di sisi lain, nama besar seperti Samsung dan Apple kemungkinan akan dapat menghindari dampak negatif dari fenomena ini. Para raksasa teknologi akan memiliki kesempatan meningkatkan pangsa pasarnya masing-masing.

"Singkatnya, tidak ada yang kembali dalam keadaan normal untuk penjual dan konsumen," direktur riset senior IDC, Nabila Popal.

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Warga Malas Beli HP Baru, Harga Smartphone Malah Mau Dinaikkan


Most Popular
Features