Maling Online Makin Ganas, Uang Rp 13 Triliun Lenyap Terkuras
Jakarta, CNBC Indonesia - Kejahatan ransomware masih terjadi sepanjang 2025. Serangan disebut mengalami peningkatan hingga 50% dan menjadi tahun paling aktif yang pernah tercatat.
Namun di sisi lain, pembayaran pada pelaku mencapai lebih dari US$820 juta (Rp13,7 triliun) dalam pembayaran on-chain. Angka itu menurun tipis 8% dari tahun sebelumnya US$892 juta (Rp14,9 triliun).
Laporan Chainalysis memperkirakan total pembayaran kemungkinan sekitar US$900 juta. Karena peristiwa dan pembayaran yang lebih banyak ketimbang yang tercatat.
Berdasarkan dinamika peningkatan serangan dan stabilnya total pembayaran membuat, persentase uang tebusan mencapai titik terendahnya tahun ini sebesar 28%.
Sementara menurut eCrime.ch, lebih banyak serangan pada usaha kecil dan menengah. Karena korban serangan akan membayar lebuh cepat.
"Namun data Chainalysisi menunjukkan lembayaran cenderung menurun meski klaim publik mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Perbedaan ini penting, menunjukkan penyerang bekerja lebih keras mendapatkan hasil yang semakin berkurang," jelas pendiri eCrime.ch, Corsin Camichel dikutip dari situs Chainalysis, Jumat (27/2/2026).
Menurut Chainalysis, fakta pembayaran yang lebih sedikit secara keseluruhan menunjukkan adanya respon dan peningkatan pengawasan regulasi. Hal ini membantu mengurangi frekuensi pembayaran ganti rugi atas serangan ransomware.
Pembatasan sejumlah aliran pendapatan berhasil dilakukan oleh tindakan internasional pada operator ransomware, infrastruktur dan jaringan pencucian uang.
Selain itu, kemunculan varian seperti Volklocker pada beberapa kasus membuat adanya gangguan pada varian ransomware. Varian ini dikenal karena kelemahan kriptografi dan memungkinkan dekripsi gratis pada beberapa kasus.
Laporan itu uuga mencatat adanya pergeseran pada banyaknya jenis kejahatan siber yang dominan menuju terdesentralisasi dan mudah berubah. Hal ini membuat atribusi, respon, dan pelacakan jangka panjang menjadi lebih penting.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]