'Kabah Baru' Arab Saudi Mendadak Disetop, Ternyata Ini Alasannya

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Jumat, 27/02/2026 14:25 WIB
Foto: Arab Saudi lanjutkan pembangunan megacity New Murabba di Riyadh dengan ikon The Mukaab setinggi 400 m. Proyek Visi 2030 ini ditarget rampung pada tahun 2030. (Dok. Murabba)

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi menghentikan sementara pembangunan proyek paling ambisiusnya di ibu kota Riyadh, The Mukaab, pada 28 Januari 2026.

Penghentian pembangunan 'Ka'bah baru' ini dilakukan karena akan dilakukan peninjauan ulang prioritas belanja dan kelayakan finansial proyek-proyek raksasa dalam agenda transformasi Visi 2030.


The Mukaab merupakan salah satu proyek ikonik yang selama ini digadang-gadang sebagai simbol futuristik Visi 2030, program ambisius Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mendiversifikasi ekonomi Saudi agar tidak lagi bergantung pada minyak.

Namun, proyek ini kini bergabung dalam daftar megaproyek yang dipangkas atau ditunda, di tengah langkah PIF, yang mengelola aset sekitar US$925 miliar, untuk mengendalikan biaya dan memprioritaskan pengeluaran.

Tak Ramah Lingkungan

Megaproyek ini juga menuai sorotan terkait potensi dampak lingkungannya. Di tengah ambisi transformasi besar-besaran melalui program Vision 2030, proyek raksasa ini dinilai menghadirkan tantangan serius dari sisi keberlanjutan.

Dalam bentuknya saat ini, The Mukaab dinilai sulit diselaraskan dengan visi pembangunan hijau yang digaungkan pemerintah. Proyek berskala masif seperti ini berisiko meningkatkan konsumsi sumber daya, emisi karbon, serta merusak habitat alami di sekitarnya.

Sebagai perbandingan, Saudi Green Initiative yang menjadi inti agenda keberlanjutan Riyadh menargetkan pengembangan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan.

Namun, The Mukaab justru dirancang sebagai bangunan tertutup berukuran raksasa yang membutuhkan sistem pendinginan dan pencahayaan sepanjang tahun.

Yasser Elsheshtawy peneliti non-residen di Arab Gulf States Institute dan profesor di Universitas Columbia, menyatakan, ukuran bangunan yang sangat besar juga akan membutuhkan pasokan air dalam jumlah masif, padahal wilayah tersebut tergolong kawasan minim sumber daya air.

Proses konstruksi diperkirakan menghasilkan limbah dalam volume signifikan, sementara distribusi material dan operasional gedung berpotensi meningkatkan emisi karbon.

The Mukaab sebelumnya dirancang sebagai kubus logam berukuran 400 meter x 400 meter, yang di dalamnya terdapat kubah dengan layar berbasis kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia.

Pengunjung direncanakan dapat menyaksikan tampilan tersebut dari sebuah struktur bertingkat menyerupai ziggurat setinggi lebih dari 300 meter di bagian dalam bangunan.

Desain Mukaab juga menarik beberapa kritik media sosial ketika diresmikan karena kemiripannya dengan Ka'bah, struktur suci di pusat Masjidil Haram di Mekkah sebagai situs paling suci umat Islam.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Dukung Transformasi Cloud ke AI, Data Center "Wajib" Punya Ini