Manusia Sudah Lewat, AI Level Dewa Sudah Dekat

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
26 February 2026 11:50
Dok Pluang
Foto: Dok Pluang

Jakarta, CNBC Indonesia - Teknologi AI berkembang dengan sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Ini juga tidak akan berhenti begitu saja, namun akan lebih banyak lagi hal terjadi di masa depan.

Salah satunya adalah tingkatan berikutnya dari AI, yakni artificial general intelligence (AGI) yang kehadirannya cukup dekat sudah sangat dekat. Ini disampaikan bos OpenAI, Sam Altman dalam sebuah acara beberapa waktu lalu.

AGIĀ adalah sebutan untuk model AI yang kecerdasannya sudah setara dengan manusia. Setelah mencapai taraf ini, AI tidak lagi harus terus menerus dilatih tetapi bisa beradaptasi dengan masalah baru dan mentransfer kemampuannya ke mesin lain.

AltmanĀ bahkan memprediksi soal kecerdasan super (ASI) akan tersedia dalam waktu dekat. Pada tahap ASI, AI sudah bisa memproses permasalahan di luar kemampuan biologis manusia. ASI juga tidak lagi hanya punya kemampuan spesifik, tetapi bisa mencari solusi dari berbagai jenis masalah.

"Mengingat apa yang saya ketahui sebagai perkembangan yang lebih cepat, saya perkirakan kecerdasan buatan super tidak terlalu jauh," kata Altman dikutip dari Indiana Express, Kamis (26/2/2026).

Dalam kesempatan yang sama, dia juga menyinggung soal banyaknya air yang digunakan untuk pusat data. Banyak pihak yang mengatakan AI menghabiskan lebih banyak air pada penggunaan yang singkat.

Altman membantah soal hal ini. Dia memastikan untuk tidak khawatir, karena hal tersebut sama sekali tidak benar.

"Anda melihat hal-hal ini di internet yang mengatakan 'jangan gunakan ChatGPT, menghabiskan 17 galon air untuk tiap kueri' atau apapun. Ini sama sekali tidak benar, benar-benar gila, tidak ada hubungannya dengan kenyataannya," jelasnya.

Namun menurutnya sangat wajar untuk mengkhawatirkan soal konsumsi energi. Karena dunia memang tengah menggunakan banyak AI dan perlunya beralih ke energi nuklir atau angin dan Matahari dengan sangat cepat.

Sementara itu, Altman menolak konsep pusat data di ruang angkasa. Menurutnya ide tersebut tidak masuk akal untuk kondisi saat ini.

"Pusat data orbital tidak akan relevan dalam skala besar dekade ini, karena perhitungan kasar biaya peluncuran dan sulitnya memperbaiki GPU yang rusak di antariksa," ungkap Altman.

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bos IMF Bilang Bunyikan Alarm Bahaya, Jangan Lupa Ingatkan Pemerintah!


Most Popular
Features