Manusia Berubah Drastis Saat Masuk Usia 40 Tahun, Ini Kata Peneliti

Redaksi, CNBC Indonesia
Jumat, 20/02/2026 11:15 WIB
Foto: University of Stirling

Jakarta, CNBC Indonesia - Seiring bertambah usia, manusia memiliki banyak perubahan pada tubuhnya. Misalnya muncul beberapa penyakit atau penurunan fungsi tubuh.

Begitu juga mereka yang masuk usia 40 tahunan. Ternyata, kelompok usia ini kebanyakan mengalami masalah pada bagian bahu. 


Temuan ini berasal dari penelitian yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine. Penelitian itu menyebutkan 99% orang dewasa di atas 40 tahun memiliki setidaknya satu kelainan pada rotator cuff. Penelitian itu berdasarkan gambar dari pencitraan resonansi magnetik (MRI).

Sebagai informasi, rotator cuff (RC) merupakan kelompok otot dan tendon di sendi bahu untuk menjaga tulang lengan berada di rongga bahu. Bagian ini kerap disalahkan saat manusia merasa sakit atau gejala lain.

Namun penelitian ini juga menimbulkan pertanyaan baru. Karena sebagian orang yang mengikuti penelitian mengaku tidak punya masalah pada bahu mereka.

Selain itu, para peneliti juga mempertanyakan peningkatan penggunaan MRI untuk mendiagnosis soal sakit pada bahu. Pada akhirnya mencatat adanya pengobatan berlebihan jika ditemukan kelainan rotator cuff.

"Meski kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan beberapa robekan RC dapat berkontribusi pada gejala bahu, temuan kami menunjukkan saat ini tidak bisa membedakan kelainan MRI secara klinis dari temuan insidental," kata para peneliti, dikutip dari Slashdot, Rabu (19/2/2026).

Perubahan di Usia 44 Tahun dan 60 Tahun

Terpisah, penelitian lain menunjukkan manusia akan mengalami perubahan drastis pada usia 44 tahun dan 60 tahun. Penelitian tersebut menyingkap alasan kenapa terjadi lonjakan masalah kesehatan pada usia tertentu.

"Ternyata pertengahan tahun 40-an merupakan masa perubahan yang dramatis, sama seperti awal 60 tahunan, dan hal ini berlaku pada apapun kelas molekul yang dilihat," jelas peneliti Michael Snyder yang merupakan direktur Pusat Genomik dan Pengobatan Personal di Universitas Stanford, dikutip dari The Guardian.

Temuan itu hasil pelacakan molekul berbeda pada orang berusia 25 hingga 75 tahun. Terdapat 108 relawan yang menyerahkan sampel darah dan tinja, usapan kulit, mulut dan hidung selama beberapa bulan dalam satu hingga tujuh tahun.

Para peneliti melakukan penelitian pada 135 ribu molekul berbeda yakni RNA, protein dan metabolit. Selain juga meneliti terkait mikroba yakni bakteri, virus, dan jamur yang hidup di usus dan kulit.

Ternyata kelompok molekul dengan pergeseran terbesar ditemukan pada manusia berusia pertengahan 40-an serta awal 60-an. Usia pertengahan 40-an sering mengalami lonjakan penuaan. Asumsi awalnya karena perubahan perimenopause pada wanita.

Namun dari data terungkap hal serupa juga terjadi pada pria di kelompok usia yang sama. Peneliti lain, Xiaotao Shen menjelaskan artinya ada faktor lain terkait perubahan ini.

"Hal ini menunjukkan meski menopause atau pre-menopause mungkin berkontribusi pada perubahan yang diamati pada wanita di usia pertengahan 40-an, mungkin ada faktor lain yang lebih signifikan yang menjadi pengaruh perubahan ini, baik pada pria atau wanita," jelas Shen yang juga mantan peneliti pasca doktoral di sekolah kedokteran Stanford.

Gelombang perubahan pertama adalah molekul terkait penyakit kardiovaskular dan kemampuan memetabolisme kafein, alkohol dan lipid. Sedangkan gelombang kedua terkait kekebalan tubuh, metabolisme karbohidrat dan fungsi ginjal.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Solusi Kelistrikan Yang Penting Bagi Proyek Data Center Era AI