China Tanam Pohon Puluhan Tahun, Gurun Gersang Berubah Hijau

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
20 February 2026 07:10
Saihanba di Chengde, Hebei, kini jadi hutan buatan terbesar dunia seluas 76.700 hektare, dengan 82% tutupan hijau hasil puluhan tahun penghijauan. (Instagram/chinaembassy_indonesia)
Foto: Saihanba di Chengde, Hebei, kini jadi hutan buatan terbesar dunia seluas 76.700 hektare, dengan 82% tutupan hijau hasil puluhan tahun penghijauan. (Instagram/chinaembassy_indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penanaman pohon besar-besaran yang dilakukan China selama puluhan tahun mulai menunjukkan hasil.

Penelitian terbaru mengungkap bahwa Gurun Taklamakan, salah satu gurun terbesar dan terkering di dunia, kini berubah menjadi penyerap karbon atau carbon sink.

Gurun yang luasnya mencapai sekitar 337.000 kilometer persegi itu selama ini dikenal sebagai wilayah ekstrem dengan kondisi sangat kering.

Lebih dari 95% permukaannya ditutupi pasir yang terus bergerak, sehingga dianggap sebagai "kekosongan biologis" karena hampir tidak mendukung kehidupan tumbuhan.

Kondisi itu semakin memburuk sejak 1950-an, ketika China mengalami urbanisasi dan perluasan lahan pertanian besar-besaran. Perubahan penggunaan lahan itu memicu lebih banyak badai pasir, yang mengikis tanah subur dan mempercepat penggurunan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah China meluncurkan proyek ekologi raksasa pada 1978 bernama Program Sabuk Perlindungan Tiga Utara, atau yang dikenal sebagai "Tembok Hijau Besar". Proyek ini menargetkan penanaman miliaran pohon di sepanjang tepi Gurun Taklamakan dan Gurun Gobi hingga 2050.

Hingga kini, lebih dari 66 miliar pohon telah ditanam di wilayah utara China. Pada 2024, China bahkan menyelesaikan sabuk vegetasi yang sepenuhnya mengelilingi Gurun Taklamakan.

Upaya ini berhasil menstabilkan bukit pasir dan meningkatkan tutupan hutan nasional dari 10% pada 1949 menjadi lebih dari 25% saat ini.

Vegetasi di pinggiran gurun kini menyerap lebih banyak karbon dioksida (CO2) dari atmosfer dibandingkan yang dilepaskan gurun tersebut. Artinya, Taklamakan berpotensi menjadi penyerap karbon yang stabil.

Studi tersebut menganalisis data pengamatan lapangan dan satelit selama 25 tahun terakhir, termasuk curah hujan, tutupan vegetasi, fotosintesis, serta aliran CO2. Peneliti juga menggunakan model Carbon Tracker milik NOAA untuk memetakan sumber dan penyerap karbon secara global.

Hasilnya menunjukkan tren peningkatan vegetasi dan penyerapan CO2 di sepanjang tepi gurun, yang terjadi bersamaan dengan pelaksanaan proyek Tembok Hijau Besar.

Selama periode penelitian, curah hujan pada musim basah dari Juli hingga September tercatat 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan musim kering. Peningkatan curah hujan itu mendorong pertumbuhan vegetasi dan fotosintesis, sehingga kadar CO2 di atas gurun turun dari 416 ppm pada musim kering menjadi 413 ppm pada musim basah.

Salah satu penulis studi, Yuk Yung, menyebut temuan ini sebagai bukti bahwa intervensi manusia dapat mengubah lanskap ekstrem menjadi penyerap karbon.

"Kami menemukan, untuk pertama kalinya, bahwa intervensi yang dipimpin manusia dapat secara efektif meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap kering paling ekstrem, menunjukkan potensi untuk mengubah gurun menjadi penyerap karbon dan menghentikan penggurunan," ujarnya, dikutip dari Live Science, Rabu (18/2/2026).

Ia menambahkan, meskipun dampak proyek Tembok Hijau Besar terhadap pengurangan badai pasir masih diperdebatkan, perannya sebagai penyerap karbon dapat menjadi contoh bagi wilayah gurun lain di dunia.

"Berdasarkan hasil studi ini, Gurun Taklamakan, meskipun hanya di bagian pinggirannya, menjadi model sukses pertama yang menunjukkan kemungkinan mengubah gurun menjadi penyerap karbon," pungkasnya.

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ahli Berhasil Hidupkan Lagi Pohon Misterius Berusia 1.000 Tahun


Most Popular
Features