Amerika Sudah Tidak Percaya Kiamat Sudah Dekat dan Makin Cepat
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat berencana menghapus kerangka hukum yang mendasari regulasi atas gas rumah kaca. Langkah pemerintahan Presiden Donald Trump ini dinilai sebagai perubahan sikap AS atas upaya menanggulangi dampak perubahan iklim global.
CNBC International melaporkan bahwa Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) akan meralat kerangka hukum yang sudah berlaku sejak 2009. EPA saat itu menyatakan gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana menyebabkan pemanasan global sehingga merupakan ancaman atas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Temuan EPAÂ itu menjadi dasar pengaturan standar emisi untuk mobil dan truk, serta mengharuskan perusahaan yang menggunakan bahan bakar fosil untuk melaporkan emisi yang mereka hasilkan secara berkala.
"Presiden Trump bersama Kepala EPA Lee Zeldin akan meresmikan penarikan temuan era Obama pada 2009. Ini adalah tindakan deregulasi paling besar dalam sejarah Amerika dan akan menghemat US$ 1,3 triliun," kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.
Aksi Trump ini diperkirakan akan merombak kebijakan AS terkait polusi dan perubahan iklim. Namun, Trump harus menghadapi sederet potensi gugatan dari aktivis lingkungan.
Leavitt menyatakan perubahan sikap pemerintah ini adalah bentuk deregulasi yang bakal menekan harga kendaraan bermotor.
CEO Natural Resources Defence Council, Manish Bapna, menyatakan langkah Trump adalah serangan paling besar atas peran pemerintah federal dalam menanggulangi dampak krisis iklim.
Dalam draft aturan baru yang beredar, EPAÂ menyatakan regulasi yang lama melebih-lebihkan risiko gelombang panas, menetapkan proyeksi pemanasan global yang lebih tinggi dari kenyataannya, serta tidak mengacuhkan "keuntungan" dari peningkatan polusi karbon seperti memacu pertumbuhan tanaman.
Seluruh argumen tersebut telah dibantah oleh komunitas ilmuwan. American Geophysical Union menyatakan laporan EPAÂ yang menjadi dasar penarikan posisi soal gas rumah kaca diambil berdasarkan informasi yang "tidak akurat dan dipilih-pilih."
"Perubahan iklim terjadi makin cepat, disebabkan oleh aktivitas manusia dan berdampak ke warga dunia dan lingkungan yang selama ini kita andalkan," kata organisasi tersebut. "Perubahan iklim juga berdampak langsung terhadap kenaikan suhu global dan gelombang panas, kenaikan permukaan laut dan badai yang makin sering, air laut yang makin asam, serta cuaca ekstrem yang menyebabkan angin topan, banjir, kebakaran lahan yang makin sering dan intens."
(dem/dem)[Gambas:Video CNBC]