Ramai-ramai Buang Saham Teknologi, Disebut Sudah Mau Punah
Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Nvidia Jensen Huang menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak akan menggantikan teknologi software dan berbagai alat pendukungnya, di tengah tekanan pada saham-saham perusahaan software global.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah aksi jual besar-besaran saham sektor software di beberapa negara terjadi pada Selasa (3/2), dan berlanjut hingga keesokan harinya.
Tekanan pasar dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran bahwa perkembangan AI dapat mendisrupsi industri data dan layanan profesional.
Kekhawatiran tersebut mencuat setelah pengembang AI Anthropic meluncurkan pembaruan chatbot terbaru pekan lalu. Pembaruan itu memicu spekulasi bahwa AI dapat mengurangi peran perusahaan software konvensional, sehingga mendorong investor melepas saham di sektor tersebut.
Namun, Huang menilai pandangan tersebut keliru. Dalam konferensi AI di San Francisco yang diselenggarakan oleh Cisco Systems, ia menegaskan bahwa AI justru bergantung pada ekosistem software yang telah ada.
Menurutnya, tidak masuk akal jika AI harus membangun ulang alat-alat dasar dari nol. Ia menekankan bahwa baik manusia maupun robot akan selalu memilih menggunakan alat yang sudah tersedia untuk meningkatkan efisiensi.
"Jika Anda manusia atau robot, baik robot buatan maupun robotika umum, apakah Anda akan menggunakan alat atau menciptakan ulang alat tersebut? Jawabannya jelas, menggunakan alat yang sudah ada. Itulah sebabnya terobosan terbaru dalam AI berfokus pada penggunaan alat, karena alat-alat tersebut dirancang secara eksplisit," ujarnya, dikutip dari Reuters, Rabu (4/2/2026).
Aksi jual saham software meluas ke berbagai wilayah. Di India, indeks saham perusahaan eksportir teknologi informasi NIFTY IT anjlok 6,3% pada Rabu, dengan saham Infosys turun tajam hingga 7,3%.
Di China, Indeks Layanan Perangkat Lunak CSI turun 3%. Sementara di Hong Kong, saham perusahaan perangkat lunak Kingdee International Software Group merosot lebih dari 13%.
Di Jepang, saham perusahaan penyedia tenaga kerja Recruit Holdings dan Nomura Research masing-masing anjlok 9% dan 8%.
(fab/fab)