TikTok Mulai Ditinggal, Pindah ke Aplikasi Baru Buatan Palestina

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Selasa, 03/02/2026 07:20 WIB
Foto: AP/Kiichiro Sato

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah aplikasi ketiban untung usai TikTok resmi memiliki struktur kepemilikan baru di Amerika Serikat (AS). Salah satunya adalah aplikasi bernama UpScrolled yang didirikan oleh Issam Hijazi, seorang pengembang asal Palestina-Yordania-Australia.

UpScrolled terbilang masih muda. Aplikasi ini diluncurkan pada Juli 2025 dan didukung Tech for Palestine yang merupakan proyek advokasi untuk mendanai teknologi pro-Palestina.

Dalam sebuah kesempatan baru-baru ini, dia mengatakan jumlah pengguna aplikasinya telah melampaui 2,5 juta pengguna. Ini mengalami peningkatan sebanyak 150 ribu hingga awal Januari lalu.


"Kami diluncurkan enam bulan lalu dan jumlah pengguna kami meningkatkan sekitar 150 ribu hingga awal Januari. Dan dalam beberapa hari terakhir, kami mencapai lebih dari 1 juta pengguna secara global, Sekarang, mulai hari ini, kami melampaui 2,5 juta pengguna secara global," jelasnya dikutip Tech Crunch, Selasa (3/2/2026).

UpScrolled disebut media sosial perpaduan antara Instagram dengan X. Platform mengklaim inklusif dengan semua suara dan mengizinkan semua konten, termasuk tidak ada perlakuan shadowban hingga sensor.

Hijazi juga pernah mengecam sejumlah perusahaan teknologi besar yang tidak etis dan menjual data pengguna demi keuntungan. Selain itu menuding para jejaring sosial menekan konten yang pro-Palestina serta melakukan sensor pengguna dengan selektif.

"Mereka tidak peduli menjual data Anda dengan orang jika artinya membuat keuntungan bagi mereka. Dan tidak peduli dengan kesehatan mental Anda, artinya akan merancang sesuatu untuk membuat kecanduan menggunakan platform selama menguntungkan untuk mereka," jelasnya.

Namun kebijakan ini juga membuat kritikan besar merujuk ke Upscrolled. Banyak pengguna yang mengeluhkan Upscrolled menampung lebih banyak konten porno dan telanjang.

Hijazi sendiri berupaya untuk mengatasinya. Dia mengatakan perusahaannya akan menerapkan pedoman komunitas untuk mematuhi hukum di sejumlah wilayah.

Pihak Upscrolled tengah mengumpulkan tim ahli, sebagai cara memperkuat pedoman komunitas dan mempertimbangkan umpan balik pengguna.

Mengutip Aljazeera, Hijazi sendiri sempat bekerja dengan perusahaan teknologi besar seperti Oracle dan IBM sebelum membangun UpScrolled. Dia mengatakan meninggalkan kariernya dan membangun perusahaannya saat serangan Israel ke Gaza.

Pendorong utamannya adalah tingkat sensor utama konten di berbagai aplikasi populer. Dia menemukan celah alternatif saat banyak konten disensor di platform besar.

"Saya menemukan celah dengan banyak orang bertanya mengapa tidak ada alternatif selain platform Big Tech untuk konten mereka, yang terus disensor. Jadi saya berpikir, mengapa kita tidak membangun sendiri? Saya langsung terjun dan membangunnya," jelas Hijazi.

Sementara itu, terjualnya TikTok di AS, juga menguntungkan platform lain selain Upscrolled. Tercatat Skylight berbasis AT Protocol telah melampaui 380 ribu pengguna dalam waktu bersamaan.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tiktok di Amerika Serikat Resmi Diakuisisi!