Curang ke Ribuan Driver, Aplikasi Antar Makanan Bayar Rp4,6 Juta/Orang

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 02/02/2026 16:00 WIB
Foto: Robot pengantar makanan Uber Eats terlihat saat demonstrasi untuk media di Tokyo, Jepang, Selasa, 5 Maret 2024. Uber Eats Japan berencana meluncurkan layanan pengantaran robot tersebut di sebuah lingkungan di Tokyo, pada Rabu. (AP/Shuji Kajiyama)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengantar makanan di New York dibela habis-habisan oleh Walikota Zohran Mamdani. Aplikasi serupa GoFood dan Grab Food yang beroperasi di New York dipaksa membayar US$ 4,6 juta (Rp 77,2 miliar) ke mitra pengantar makanan.

Mamdani bersama komisioner Departemen Perlindungan Konsumer dan Tenaga Kerja New York Sam Levine mengumumkan bahwa Uber Eats, Fantuan, dan Hungry Panda berutang upah ke mitra pengemudinya. 

"Era korporasi besar memeras laba dengan tidak membayar pekerjanya cukup, sudah berakhir. Saya bangga badan ini tidak hanya mengembalikan upah yang terutang, tetapi juga mengembalikan kerugian dan mengenakan sanksi sebagai pesan bahwa pekerja tidak bisa dicurangi," kata Levine.


Uber Eats terbukti secara tidak adil melakukan deaktivasi dan tidak membayar ribuan pekerjanya dengan adil antara 4 Desember 2023 dan 2 September 2024. Platform tersebut dihukum membayar US$ 3,15 juta ke 48.000 pekerja, dengan nilai antara US$ 8,79 (Rp 148 ribu) hingga US$ 276,14 (Rp 4,6 juta). Pemerintah Kota New York juga mendenda Uber Eats US$ 350.000.

Sebagai perbandingan, Uber Eats membukukan pendapatan US$ 13,7 miliar sepanjang 2024.

Menurut Futurism, denda atas aplikasi pesan antar makanan menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya mereka tidak bisa berkelit dari permintaan upah layak. Aplikasi pesan antar makanan biasanya berlindung di balik sistem "algoritma" untuk membayar penghasilan kecil ke mitra pengantar.

"Selama bertahun-tahun, perusahaan aplikasi memperlakukan hukum seperti hanya pilihan, berlindung di balik algoritma, mencopet upah, dan melakukan deaktiviasi seenaknya," kata Ligia Guallpa dari Workers Justice Project.

Namun, Uber menolak disalahkan. Bahkan, mereka menyampaikan rasa terima kasih ke pejabat New York.

"Setelah diberi tahu soal isu ini pada Agustus 2024, kami langsung memperbaikinya, membayar utang kami, dan menyampaikan apresiasi ke pemerintahan baru yang mengambil langkah cepat dan adil," kata juru bicara Uber, Josh Gad.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Cara Cloud Bantu Bisnis e-Commerce - Bank Makin Efisiensi