Zona Megathrust RI Bergeser, Ahli Jepang Peringatkan Wilayah Krusial

Redaksi,  CNBC Indonesia
31 January 2026 12:45
Ilustrasi gempa Megathrust segmen Sumatera dan Selatan Jawa. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis  off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)
Foto: Ilustrasi gempa Megathrust segmen Sumatera dan Selatan Jawa. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemutakhiran data seismik nasional mengungkap fakta mengejutkan mengenai pergeseran titik tekan di zona megathrust Indonesia.

Dalam studi terbaru yang melibatkan pakar kegempaan dari Jepang, terdeteksi adanya akumulasi energi yang signifikan di area yang sebelumnya dianggap kurang aktif, memicu peringatan dini bagi pemerintah dan masyarakat.

Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University menilai karakter geologi Indonesia memiliki kemiripan dengan zona Nankai Trough, salah satu kawasan megathrust paling aktif di dunia.

"Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar," ujar Heki saat menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhir Desember 2025.

Menurut Heki, meski waktu terjadinya gempa besar sulit diprediksi, pemantauan deformasi kerak bumi secara jangka panjang menjadi kunci penting dalam mitigasi bencana. Ia menekankan peran Global Navigation Satellite System (GNSS) serta pengukuran geodesi dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan di zona subduksi.

Kami melihat adanya kopling antar seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya," jelasnya.

Heki juga menyoroti fenomena slow slip event atau pergeseran lambat yang kerap muncul sebelum gempa besar. Meski bergerak sangat perlahan, fenomena ini dinilai berpotensi menjadi indikator awal.

"Fenomena ini telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan wilayah lain di Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini bisa saja memicu gempa besar berikutnya," katanya.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan sistem pemantauan serupa, mengingat banyaknya zona subduksi aktif mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku. Dengan penguatan jaringan GNSS dan teknologi pemantauan dasar laut, Indonesia dinilai dapat membaca akumulasi tegangan tektonik secara lebih presisi.

"Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia," ujar Heki.

Dalam peta terbaru tersebut, zona Megathrust Aceh-Andaman tercatat memiliki potensi gempa terbesar dengan magnitudo maksimum mencapai 9,2. Sementara Megathrust Jawa berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 9,1. Sejumlah zona lain seperti Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano masing-masing menyimpan potensi gempa hingga magnitudo 8,9.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga menyoroti keberadaan dua zona megathrust yang masih berada dalam kondisi seismic gap, yakni Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Kedua wilayah tersebut telah ratusan tahun tidak melepaskan energi besar, masing-masing sejak gempa terakhir pada 1757 dan 1797.

BMKG menegaskan, istilah "menunggu waktu" tidak dimaksudkan sebagai prediksi kapan gempa akan terjadi.

"Yang dimaksud adalah akumulasi energi yang masih tersimpan karena lama tidak terjadi gempa besar. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat," tulis BMKG dalam keterangan resminya.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Zona Megathrust RI Berubah, Wilayah Ini yang Paling Banyak dan Rawan


Most Popular
Features