Bos Xiaomi Tak Sudi Dipanggil Steve Jobs

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Jumat, 30/01/2026 09:50 WIB
Foto: Pendiri dan CEO Xiaomi, Lei Jun menghadiri upacara peluncuran telepon unggulan baru Xiaomi Mi 9 di Beijing, Cina 20 Februari 2019. (REUTERS / Jason Lee)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sudah sejak lama, pendiri Xiaomi Lei Jun disebut sebagai Steve Jobs-nya China. Namun ternyata dia enggan dirinya mendapat julukan tersebut.

Protesnya ini sempat dia ungkapkan dalam sebuah tulisan di blog resmi perusahaan sekitar tahun 2013 lalu. Salah satu yang disoroti adalah saat sejumlah reporter menyakan dirinya dengan Jobs.

Dia sendiri menilai mendiang pendiri Apple adalah seorang yang hebat. Jobs juga disebutnya sebagai merupakan inspirasi besar bagi Xiaomi.


Namun menjadikan mendiang pendiri Apple sebagai perbandingan dengan dirinya, disebut tidak tepat. Karena baik Apple dan Xiaomi adalah dua perusahaan yang berbeda.

"Tetapi menggunakan dia sebagai titik perbandingan untuk diri saya sama sekali tidak tepat. Xiaomi dan Apple merupakan dua perusahaan yang sangat berbeda," jelasnya, dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (30/1/2026).

"Jadi saat seorang reporter bertanya 'orang-orang menyebut Anda Steve Jobs-nya China, bagaimana Anda menanggapi itu?' saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakan," dia menambahkan.

Bukan hanya itu, banyak wartawan yang mengajukan pertanyaan soal cara Xiaomi untuk lebih baik dari Apple atau Samsung. Lei mengaku bingung menjawab pertanyaannya karena kala itu perusahaannya masih sangat muda.

Jika dilihat dari perspektif lain, dia menjelaskan Xiaomi berada di antara para raksasa industri yang menyiratkan perusahaannya punya kualitas. Namun saat hal ini dijelaskan, akan disalahartikan dan berakhir dirinya mendapat kritikan di internet.

"Namun dari perspektif lain, Xiaomi berdiri di antara para raksasa industri yang kompetitif dan cepat berubah. Apakah Anda menyiratkan Xiaomi tidak punya kualitas yang membuatnya menonjol? Tentu ada. Namun saat dijelaskan orang lain bisa berakhir menjadi artikel "Lei Jun mengatakan Xiaomi telah melampaui Samsung dan Apple" atau semacam itu. Kemudian saya dikritik lagi di internet," kata Lei.

Selain itu, dia juga menyoroti cara media lokal menilai Xiaomi yang digambarkan sebagai baofahu atau warga kelas bawah yang mendadak kaya.

Lei mencontohkan saat The Wall Street Journal menulis soal Xiaomi tak lagi menggunakan istilah shanzhai atau perusahaan tidak terpakai. Kemudian, laporan itu diterjemahkan oleh media lokal dan diubah dengan sebutan baofahu.

Dia sendiri menegaskan tak tertarik berdebat. Namun menekankan artikel terjemahan itu bisa memiliki bias.

"Saya tidak tertarik berdebat soal semantik, namun semua orang bisa melihat terjemahkan bahasa Mandarin dari The Wall Street Journal punya bias mendasar dengan kata baofahu," tegasnya.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inovasi Telkom Memberdayakan Infrastruktur Hulu ke Hilir