Puluhan Aplikasi Bahaya Beredar di App Store dan Play Store, Waspada!
Jakarta, CNBC Indonesia - Puluhan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) berbahaya yang mampu mengubah foto seseorang menjadi gambar telanjang tanpa persetujuan ditemukan di Apple App Store dan Google Play Store.
Temuan ini terungkap dalam laporan Tech Transparency Project (TTP) yang dibagikan secara eksklusif kepada CNBC Internasional.
Berdasarkan peninjauan yang dilakukan pada Januari 2026, TTP menemukan sedikitnya 55 aplikasi nudify di Google Play Store dan 47 aplikasi serupa di Apple App Store.
Aplikasi-aplikasi tersebut memungkinkan pengguna menghasilkan gambar telanjang atau konten seksual berbasis foto orang lain dengan bantuan AI.
Setelah dihubungi oleh TTP dan CNBC, Apple menyatakan telah menghapus 28 aplikasi yang diidentifikasi dalam laporan tersebut. Apple juga memperingatkan pengembang aplikasi lain bahwa mereka berisiko dikeluarkan dari App Store jika tidak segera memperbaiki pelanggaran pedoman.
Namun, TTP menyebutkan bahwa hasil tinjauan lanjutan menunjukkan hanya 24 aplikasi yang benar-benar dihapus dari Apple App Store.
Apple juga mengonfirmasi dua aplikasi yang sempat dihapus telah kembali tersedia setelah pengembangnya mengirimkan versi baru yang dinilai telah memenuhi pedoman.
Di sisi lain, Google mengaku telah menangguhkan sejumlah aplikasi yang disebutkan dalam laporan karena melanggar kebijakan Play Store.
Meski demikian, Google tidak mengungkapkan jumlah pasti aplikasi yang dihapus dengan alasan proses investigasi masih berlangsung.
TTP menilai keberadaan aplikasi-aplikasi tersebut bertentangan dengan komitmen Apple dan Google terhadap keamanan pengguna.
Menurut TTP, aplikasi nudify dapat mengubah foto biasa, khususnya perempuan, menjadi gambar yang bersifat melecehkan dan diseksualisasi tanpa persetujuan.
Direktur TTP, Katie Paul, menegaskan bahwa aplikasi-aplikasi tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai sekadar fitur hiburan. Ia menyebut aplikasi tersebut secara jelas dirancang untuk menghasilkan seksualisasi non-konsensual terhadap individu.
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya penggunaan AI untuk menghasilkan konten seksual. Awal bulan ini, xAI milik Elon Musk menuai kritik setelah Grok, alat AI miliknya, menghasilkan gambar perempuan dan anak-anak yang diseksualisasi.
Komisi Eropa bahkan telah membuka penyelidikan terhadap platform X terkait penyebaran konten seksual eksplisit oleh Grok.
CNBC Internasional sebelumnya juga melaporkan dampak nyata dari layanan nudify. Dalam sebuah investigasi pada September lalu, ditemukan lebih dari 80 perempuan di Minnesota menjadi korban deepfake seksual tanpa persetujuan, yang dibuat dari foto media sosial publik mereka.
Karena tidak ada distribusi konten dan seluruh korban adalah orang dewasa, kasus tersebut tidak memenuhi unsur pidana.
Laporan TTP juga menyoroti risiko keamanan data. Dari seluruh aplikasi yang diteliti, 14 aplikasi diketahui berbasis di China. Menurut Paul, undang-undang penyimpanan data di China memungkinkan pemerintah setempat mengakses data perusahaan, termasuk data korban deepfake.
"Undang-undang penyimpanan data China berarti pemerintah China memiliki hak atas data dari perusahaan mana pun yang beroperasi di China," kata Direktur TTP, Katie Paul, dikutip dari CNBC Internasional, Kamis (29/1/2026).
"Jadi jika seseorang membuat deepfake telanjang tentang Anda menggunakan aplikasi tersebut, data itu kini berada di tangan pemerintah China," imbuhnya.
Secara keseluruhan, aplikasi-aplikasi nudify yang diidentifikasi TTP telah mencatat lebih dari 700 juta unduhan secara global dan menghasilkan pendapatan sekitar US$117 juta.
Apple dan Google turut memperoleh bagian dari pendapatan tersebut melalui sistem distribusi aplikasi di platform mereka. TTP menilai ketidakkonsistenan penegakan kebijakan ini menimbulkan pertanyaan besar terkait kredibilitas Apple dan Google.
"Fakta bahwa mereka tidak mematuhi kebijakan mereka sendiri, yang dirancang untuk melindungi orang dari citra telanjang tanpa persetujuan dan pornografi non-konsensual, menimbulkan banyak pertanyaan tentang bagaimana mereka dapat memposisikan diri sebagai platform aplikasi yang tepercaya," pungkasnya.
(fab/fab)[Gambas:Video CNBC]