China Makin Ganas, Ketakutan Trump Akhirnya Jadi Kenyataan

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
27 January 2026 21:10
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat mengadakan pertemuan bilateral di Bandara Internasional Gimhae, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), di Busan, Korea Selatan, 30 Oktober 2025. REUTERS/Evelyn Hockstein
Foto: Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat mengadakan pertemuan bilateral di Bandara Internasional Gimhae, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), di Busan, Korea Selatan, 30 Oktober 2025. REUTERS/Evelyn Hockstein

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak pemerintahan Joe Biden hingga Donald Trump, Amerika Serikat (AS) berkali-kali mengeluarkan kebijakan untuk menghambat China dalam  mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI). AS selama ini menggembar-gemborkan kekhawatiran bahwa China akan menggunakan AI untuk memperkuat militernya. 

Upaya AS menghambat perkembangan AI China paling terlihat dari regulasi pembatasan ekspor chip dan alat pembuat chip canggih untuk pengembangan AI ke China. Namun, Trump belakangan mulai melunak dan mengizinkan ekspor chip H200 buatan Nvidia ke China.

Di saat bersamaan, China tampak makin gencar mengembangkan chip canggih secara mandiri, agar melepas ketergantungan dari teknologi AS.

Akhirnya, ketakutan AS mulai menjadi kenyataan. Laporan terbaru menyebut China tengah mengembangkan teknologi AI yang memungkinkan produksi drone militer meniru perilaku hewan saat bertarung.

Penelitian yang dilakukan oleh engineer Beihang University, kampus yang terafiliasi dengan militer, menghasilkan sistem drone yang dapat berperilaku layaknya elang dan merpati.

Dalam model tersebut, drone defensif bertindak seperti elang dengan menargetkan musuh paling rentan, sedangkan drone penyerang berperilaku seperti merpati untuk menghindari serangan.

Dalam simulasi lima lawan lima, drone 'elang' mampu menghancurkan seluruh drone 'merpati' hanya dalam 5,3 detik. Inovasi ini telah memperoleh paten pada April 2024 dan menjadi bagian dari agenda pertahanan China dalam mengembangkan kawanan drone otomatis.

Bisa dibilang, inovasi senjata 'pembunuh' ini akan membuat militer China makin tangguh di mata global. 

Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) memandang AI sebagai kunci untuk mengoperasikan sistem tanpa awak, mulai dari drone hingga robot anjing, dengan intervensi manusia minimal.

Para teoritikus militer China bahkan menyebut era AI sebagai revolusi peperangan baru, dengan operasi kawanan sebagai metode tempur utama, sebanding dengan dampak historis bubuk mesiu terhadap peperangan global.

Penggunaan drone sendiri sudah sangat signifikan dalam konflik modern, termasuk di Ukraina. China memiliki keunggulan pada sisi industri, dengan kapasitas produksi lebih dari satu juta drone murah per tahun, jauh di atas kemampuan produksi Amerika Serikat yang hanya puluhan ribu unit dan berbiaya lebih tinggi.

Tak hanya drone, China telah memamerkan robot 'serigala' bersenjata yang dapat beroperasi bersama kawanan drone udara.

Para analis menilai AI juga dapat menutupi celah dalam pelatihan PLA mengingat struktur komando yang sangat terpusat dan minimnya pengalaman tempur banyak komandan.

Tak hanya terbatas pada pengendalian drone saja, dokumen pengadaan militer China menunjukkan riset pada sistem perang kognitif yang mampu menyiarkan deepfake, mengerahkan robot anjing, hingga menggunakan suara terarah untuk menyerang target.

Meski masih dalam pengembangan, para ahli memperingatkan risiko jika keputusan mematikan dibuat tanpa kontrol manusia atau gagal dalam kondisi peperangan elektronik.

China juga mengkaji perilaku hewan lain, termasuk semut, koyote, domba, paus, elang, hingga lalat buah untuk meningkatkan koordinasi kawanan drone.

The Wall Street Journal mencatat bahwa sejak 2022, setidaknya 930 paten terkait kecerdasan kawanan diajukan institusi yang terkait militer China, jauh di atas AS yang hanya sekitar 60 paten.

Militer AS turut mengembangkan teknologi serupa, tetapi lebih fokus pada integrasi drone individual bersama prajurit manusia.

Para ahli mencatat bahwa kombinasi AI dan rantai pasok drone yang masif dapat memungkinkan PLA untuk membanjiri sistem pertahanan musuh dalam skenario seperti konflik di Taiwan.

"Dengan sangat mudah Anda bisa memiliki kepadatan tembakan di udara yang terus menerus menyapu dan mencari, sehingga membuat Taiwan sangat sulit melakukan operasi defensif," kata Stacie Pettyjohn dari Center for a New American Security, dikutip dari Times of India, Selasa (27/1/2026).

Para ahli militer China melihat AI sebagai solusi atas keterbatasan manusia, tetapi sebagian memperingatkan bahaya yang mengintai.

"Begitu sistem senjata berbasis kecerdasan buatan menimbulkan risiko keselamatan, 'kotak hitam algoritma' dapat menjadi alasan rasional bagi pihak terkait untuk menghindari tanggung jawab," tulis Zhu Qichao dari Universitas Pertahanan Nasional China.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Amerika Mulai Ditinggal, Ini Bukti China Makin Perkasa


Most Popular
Features