Badai PHK Menggila, Perusahaan Ogah Rekrut Karyawan Baru
Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak AI mulai menghantam keras bursa kerja di Inggris. PHK terus terjadi, sementara perekrutan karyawan baru mengalami penurunan.
Perusahaan-perusahaan di Inggris Raya dilaporkan mengalami peningkatan produktivitas akibat AI dengan rata-rata pertumbuhan 11,5%. Namun, dampak negatif juga menghantui perkembangannya.
Morgan Stanley menyebutkan pekerja di Inggris lebih terdampak adopsi AI dibandingkan pekerja di negara lain. Tahun lalu saja, perusahaan di wilayah tersebut memangkas 8% dari tenaga kerja dan jadi yang terburuk di antara negara lain, seperti Jerman, Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Australia.
Selain itu, lowongan pekerja juga mengalami penurunan. Khususnya pengurangan terjadi untuk posisi yang ditangani oleh AI, misalnya pengembang software atau konsultan, dikutip dari Cryptopolitan, Selasa (26/1/2026).
Data dari Kantor Statistik Nasional menyebutkan lowongan pekerjaan yang rentan digantikan AI turun 37%. Sementara posisi lainnya mengalami penurunan mencapai 26%.
"Meningkatnya biaya memperkerjakan staf mendorong makin banyak bisnis kecil untuk menggunakan AI dan solusi outsourcing untuk memenuhi peran tradisional diisi penduduk lokal yang sekarang kehilangan kesempatan ini," jelas Justin Moy dari EHF Mortgages.
Morgan Stanley mengatakan perusahaan-perusahaan di Inggris telah memangkas atau tidak mengisi kembali seperempat posisi yang ada di dalamnya. Semua itu diakibatkan AI, yang juga dialami oleh negara-negara lain.
Dari segi ekonomi, AI disebut akan mengangkat Inggris dari keterpurukan. Bahkan, bisa meningkatkan pertumbuhan produktivitas hingga 0,8% dalam 10 tahun.
Di saat bersamaan, lowongan pekerjaan di seluruh perekonomian juga dilaporkan menurun hampir sepertiga sejak 2022. Artinya ada setengah juta posisi yang hilang.
Dari jumlah tersebut, seperlimanya adalah dari sektor yang dampak besarnya berasal dari AI. Mulai dari pekerjaan profesional, ilmiah dan teknis, layanan administrasi dan IT.
(fab/fab)[Gambas:Video CNBC]