Krisis Menggila, Kejayaan Raja Chip Dunia Runtuh Seketika

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Senin, 26/01/2026 21:10 WIB
Foto: Intel (REUTERS/Mike Blake)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib Intel makin terombang-ambing setelah sempat 'bangkit' dari keterpurukan. Penyebabnya adalah kabar bahwa sang raja chip mengalami kesulitan dalam memenuhi permintaan chip untuk data center AI.

Menurut kabar yang beredar, Intel mengalami tantangan pada proses rantai pasok, salah satunya disebabkan krisis chip global. Saham Intel anjlok hingga 14% pada Jumat (23/1) lalu.

Seperti diketahui, Intel sempat mengalami guncangan lantaran terlambat masuk dalam persaingan industri AI. Tahta Intel sebagai raja chip dunia kemudian direbut oleh Nvidia. 


Intel lalu melakukan restrukturisasi kepemimpinan, memberhentikan Pat Gelsinger sebagai CEO. Setelah pertimbangan yang matang, Intel lantas menunjuk Lip-Bu Tan sebagai CEO baru. 

Lip-Bu Tan dinilai memiliki jaringan dan pengalaman dalam industri chip untuk menghadapi persaingan yang ketat. Namun, Lip-Bu Tan sempat memicu kontroversi karena kedekatannya dengan China. Bahkan, Presiden AS Donald Trump sempat memintanya mengundurkan diri dari Intel. 

Tak menunggu lama, setelah bertemu langsung, Trump akhirnya berbalik menyuarakan dukungan terhadap Lip-Bu Tan dan Intel. Bahkan, pemerintah AS mengambil alih 10% saham Intel dan membuat pasar ikut bergeliat. 

Akhir tahun lalu, saham Intel naik hingga 84% dan melebihi sebagian perusahaan semikonduktor. Tren positif juga berlanjut hingga awal tahun ini, sahamnya naik 47% pada Januari ini.

Sayang capaian baik itu tidak bisa dipertahankan oleh Intel. Perusahaan tidak bisa memenuhi permintaan untuk chip data center AI karena adanya kendala pasokan.

Masalah ini terjadi saat pabrik-pabrik Intel beroperasi dengan kapasitas penuh. CFO Intel, David Zinsner memperkirakan pasokan akan membaik pada kuartal dua nanti, dikutip dari Reuters, Senin (26/1/2026).

Sementara menurut analis Jefferies, pasokan akan mencapai titik terendahnya pada Maret nanti. Perusahaan pialang Oppenheimer mengatakan kendala pasokan baru akan terkendali pada kuartal kedua mendatang.

Bukan hanya saja saham yang menurun, perkiraan laba dan pendapatan kuartalan juga terdampak berada di bawah estimasi. Jika terus berlanjut, penurunan juga menghapus lebih dari US$35 miliar dari nilai pasar Intel.

Reuters menuliskan perusahaan menghadapi kendala mengubah jenis semikonduktor yang diproduksinya. Ini menghambat peningkatan produksi prosesor data center.

Ada pula faktor kekurangan pasokan memori global. Chip memori yang mengalami kenaikan harga diperkirakan akan meredam permintaan pasar akhir di pasar komputer pribadi, segmen terbesar milik Intel.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Produsen Eropa Mulai Produksi Kendaraan Hybrid Berbasis AI