Awas Tenggelam Jadi Atlantis, Air Laut Naik-Tanah di sini Turun Terus
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena kenaikan permukaan air laut atau sea level rise terus menjadi ancaman nyata bagi wilayah pesisir Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kenaikan muka air laut terjadi akibat perubahan iklim yang memicu pencairan es di kutub dan pemuaian termal air laut.
BMKG mencatat, rata-rata kenaikan muka air laut global meningkat dari 1,4 mm per tahun pada 1901-1990 menjadi 3,6 mm per tahun pada 2006-2015.
BMKG mengingatkan, kenaikan muka air laut pelan-pelan naik tiap tahun.
"Nggak selalu kelihatan, tapi dampaknya nyata, terutama untuk wilayah pesisir," tulis BMKG dalam unggahan di akun Instagram resmi, @/bmkgmaritim, dikutip Sabtu (24/1/2026).
Ditambahkan, kenaikan muka air laut tidak hanya akan berdampak ke daratan. Tapi juga rumah, penghidupan, dan ekosistem.
Rumah dan bangunan di wilayah pesisir terancam hilang, lahan pertanian dan tambak berkurang, serta berpotensi memicu migrasi penduduk.
Selain itu, ekosistem laut juga terganggu, termasuk pemutihan terumbu karang (coral bleaching) dan gangguan rantai makanan laut.
Wilayah yang paling terdampak adalah Sayung, Demak (Jawa Tengah), dan Jakarta Utara. Ribuan hektar lahan di Sayung tenggelam akibat kombinasi kenaikan air laut dan penurunan tanah (land subsidence) yang mencapai 10-15 cm per tahun.
Di Jakarta Utara, mencatat rekor penurunan tanah tertinggi di dunia di beberapa titik, melebihi 10 cm per tahun yang menjadikan wilayah pesisir rentan terhadap banjir rob.
BRINĀ Keluarkan Peringatan
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa penurunan tanah menambah risiko bencana.
Menurut Periset Pusat Riset Geoinformatika BRIN Joko Widodo, penurunan tanah terjadi secara perlahan akibat pengambilan air tanah berlebihan, tanah yang lunak, pemadatan sedimen, dan beban bangunan.
Di beberapa daerah, penurunan bahkan telah mencapai lebih dari 1 meter dalam delapan tahun terakhir.
Penurunan tanah ini pun disebut bisa jadi ancaman serius. Akibatnya di antaranya bisa memicu bangunan rusak, jalan amblas, dan rob yang semakin sering terjadi.
"Penurunan tanah merupakan ancaman serius, terutama di wilayah Pantai Utara Jawa seperti Jakarta, Pekalongan, dan Sayung, Demak," kata Periset Pusat Riset Geoinformatika BRIN Joko Widodo dalam unggahan di akun media sosial resmi BRIN.
"Jika tidak ditangani dengan langkah mitigasi dan adaptasi yang tepat, dampaknya bisa sangat merugikan mulai dari hilangnya wilayah daratan hingga terganggunya kehidupan masyarakat pesisir," tambahnya mengingatkan.
Dijelaskan, penurunan tanah atau land subsidence adalah turunnya permukaan bumi secara perlahan karena material di bawah tanah menyusut.
Penyebab utamanya yaitu pengambilan air tanah berlebihan, pemadatan alami sedimen dan beban bangunan di atas tanah yang lunak.
Di sisi mitigasi, BMKG mendorong masyarakat untuk mengurangi jejak karbon, melakukan konservasi pesisir seperti menanam mangrove, menjaga terumbu karang, serta memahami kebijakan global seperti High Seas Treaty.
Perjanjian internasional ini mulai berlaku Januari 2026, dengan fokus melindungi ekosistem laut sebagai carbon sink dan mengurangi tekanan suhu laut global.
(dce)