Bos Microsoft Ungkap Ancaman Bencana Besar Bubble AI

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
23 January 2026 16:40
CEO Microsoft Satya Nadella memberi paparan pada gelaran Microsoft Build: Al Day Jakarta, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (30/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: CEO Microsoft Satya Nadella memberi paparan pada gelaran Microsoft Build: Al Day Jakarta, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (30/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan AI diketahui cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun ini bisa berakhir jika penggunaannya tak menyebar dengan luas.

CEO Microsoft Satya Nadella menyebutkan penggunaan AI perlu menyebar di berbagai tempat dan industri, tidak hanya di perusahaan teknologi besar dan negara kaya. Dengan begitu AI tak lagi berisiko menjadi gelembung spekulatif.

Karena AI menjadi gelembung adalah saat hanya kelompok teknologi tertentu yang mendapatkan manfaat dari peningkatan AI.

"Agar tidak dianggap seperti gelembung menurut definisinya, manfaatnya harus lebih merata," ucap Nadella dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, dikutip dari Financial Times, Jumat (23/1/2026).

AI, dia mengatakan bisa sangat transformatif dalam berbagai industri. Salah satu contohnya membantu mengembangan obat-obatan baru.

Nadella mengatakan masa depan adopsi AI bukan bergantung pada satu penyedia model dominan. Ini juga yang mendorong Microsoft terus melakukan kerja sama dengan sejumlah perusahaan AI seperti Anthropic, xAI dan OpenAI.

Hasil kerja sama itu sangat menguntungkan bagi Microsoft. Misalnya investasi US$14 miliar pada OpenAI, membuat perusahaan bisa mengakses ke teknologi pembuat ChatGPT dan klaim pertama atas kontrak pusat data.

Namun eksklusivitas dengan OpenAI akan segera menghilang. Microsoft telah melepaskan kebutuhan pusat data dan kehilangan akses pada riset dan model awal tahun 2030, ini terjadi setelah restrukturisasi kemitraan yang dilakukan dua perusahaan bulan Oktober lalu.

Nadella juga menyinggung soal model AI, meminta perusahaan memanfaatkan berbagai model yang tersedia termasuk sumber terbuka. Bukan hanya itu, dia meminta perusahaan bisa membangun model sendiri dengan teknis distilasi.

Cara itu akan menghasilkan model canggih versi lebih kecil dan lebih murah. Penggunaan model yang tersedia, Nadella mengatakan bisa menjadi modal perusahaan untuk tetap maju.

"Jadi kekayaan intelektual dari aplikasi atau perusahaan manapun adalah bagaimana menggunakan semua model dengan rekayasa konteks atau data Anda? Jika perusahaan bisa menjawabnya, maka mereka bisa terus maju," jelasnya.

(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article China-Amerika Minggir, Giliran Negara Arab Mendadak Bikin Geger


Most Popular
Features